Johannes B Kotjo, pengusaha tersangka pemberi suap kepada Eni Saragih memakai rompi tahanan oranye. Foto: Dimeitri/Kriminologi

Sosok Johanes B Kotjo Penyuap Eni Saragih, Dua Kali Tersandung Kasus

Estimasi Baca:
Minggu, 15 Jul 2018 08:00:56 WIB

Kriminologi.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan seorang pengusaha bernama Johannes Budisutrisno Kotjo sebagai tersangka pemberi suap kepada anggota DPR Eny Maulany Saragih.

Siapa sebenarnya sosok pria yang disebut-sebut sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia itu?

Saat memberikan keterangan kepada pers terkait penetapan tersangka kepada Eny dan Johanes, wakil ketua KPK Basaria Panjaitan menyebut Johanes adalah pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited.

Penelusuran Kriminologi.id, Blackgold adalah perusahaan yang menargetkan pembangunan pembangkit listrik di Indonesia berkembang pesat dengan fokus menyediakan batu bara untuk pembangkit listrik yang berada di Provinsi Riau.

Perusahaan asal Singapura itu melantai di bursa saham Singapura sejak Maret 2015. Pada Agustus 2017, Johannes membeli 300 ribu lembar saham Blackgold.

Nama Johanes B Kotjo juga muncul dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia tahun 2016 versi majalah Globe Asia.

Dalam daftar itu, ia bertengger di urutan ke-117. Ia disebutkan sebagai pemilik Apac Group yang bergerak di bidang industri tekstil. Nilai kekayaannya ditaksir sebesar 267 juta dolar AS.

Penelusuran Kriminologi menemukan fakta bahwa Johanes B Kotjo ternyata bukan baru kali ini tersandung kasus masalah hukum.

Pada 2001 ia ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus penggelapan dan penipuan proses pengambilalihan PT Kanindotex milik Robby Tjahjadi. Ia diduga memanipulasi dana sebesar 70 juta dolar AS.

Kini, pria paruh baya berkacamata itu kembali tersandung masalah hukum. Oleh KPK ia menjadi salah satu yang terciduk dalam serangkaian operasi tangkap tangan (OTT) pada Jumat, 13 Juli 2018. 

Ia diduga memberi suap sebesar Rp 4,8 miliar kepada Eni Saragih yang diberikan dalam beberapa tahap.

Sebelum tertangkap, ia telah memberikan uang yang merupakan commitment fee terkait pemulusan proyek PLTU Mulut Tambang Riau-1 itu dalam tiga tahap, yaitu Rp 2 miliar pada Desember 2017, Rp 2 miliar pada Maret 2018, dan Rp 300 juta pada Juni 2018.

Saat terjaring OTT, adalah penyerahan uang tahap terakhir sebesar Rp 500 juta.

Reporter: Reza Yunanto
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500