Justinus Sinaga (40), seorang sopir taksi online yang ditemukan tewas dalam kondisi terikat di lereng gunung Halimun Salak. Foto: Kasidah Sinaga/Facebook

Sosok Justinus, Sopir Grab Korban Rampok Selalu Antar Anak ke Sekolah

Estimasi Baca:
Selasa, 6 Mar 2018 15:06:46 WIB

Kriminologi.id - Sopir transportasi online Grab Car, Justinus Sinaga (40), yang ditemukan tewas di Gunung Bunder, Desa Gunung Picung, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor diketahui sosok yang pendiam. Justinus juga dikenal sebagai sosok yang menyayangi keluarga. Setiap pagi Justinus mengantarkan anaknya yang masih bersekolah di Taman kanak-Kanak.

Kriminologi mendatangi rumah Justinus Sinaga di Jalan Beji Pladen, Kelurahan Situ Pladen, Beji-Depok, Jawa Barat. Di kawasan itu, terdapat cukup banyak rumah kontrakan berukuran tipe 24.

Situmorang (45) kakak ipar Justinus, mengatakan Justinus Sinaga dan sebagian keluarganya sudah tinggal di kawasa itu sejak tahun 1993. Justinus menikah dengan Maria Maghdalena pada 2009.

Baca: Kecurigaan Istri Sopir Taksi Online yang Dibunuh di Gunung Salak

sopir grab korban rampok

Menurut Situmorang, sebelum bekerja sebagai sopir taksi online, Justinus lama bekerja sebagai sopir angkot 04 dengan trayek jurusan Depok Timur-Pasar Minggu. 

"Jadi sebelum masuk taksi online, kan lama jadi sopir angkot. Daftar jadi sopir taksi online kalau tidak salah itu tahun 2015. Mobil yang dipakai ya yang Avanza warna hitam itu. Tapi mobil itu dibeli sejak tahun 2013 dan sebelum masuk taksi online sudah lunas, kepemilikannya memang atas nama si abang (Justinus)," ujarnya kepada Kriminologi, Selasa, 6 Maret 2018.

Menurut Situmorang, istrinya sudah jika Justinus pulang larut malam setiap harinya, karena pekerjaannya sebagai sopir taksi online menuntut jam kerja demikian. Namun pada Minggu, 4 Maret 2018 Justinus, Maria curiga dan menelepon suaminya, namun tidak ada respon hingga keesokan harinya.

Meskipun sosok Justinus yang cukup pendiam, kata Em, Justinus sangat dekat dan menyayangi keluarganya terutama anaknya. Bahkan setiap pulang kerja,Justinus sering membelikan makanan utntuk anaknya.

sopir garb korban rampok

"Dia itu cukup pendiam, tapi sangat ramah, sayang sama keluarga, sama Jordan apalagi. Kan sebelum narik sering nganterin Jordan ke sekolah TK di Pancoran Mas sana. Tiap pulang narik juga sering beliin makanan buat Jordan, kadang buah-buahan. Kasihan, waktu tau sudah meninggal Jordan jadi nangis terus, sekarang kemana-mana harus sama mamahnya," ujar Situmorang.

Di rumah itu, salah seorang teman Justinus yang juga bekerja sebagai sopir taksi online, Fahrul, mengaku pernah beberapa kali bertemu dengan Justinus di salah satu tempat berkumpul sesama sopir taksi online yang terletak di Jalan Datuk Kuningan, Beji Pladen.

"Pernah beberapa kali ketemu sama si abang (Justinus), orangnya ramah sih, tapi kadang pendiam juga. Kalau kumpul di sini jarang juga, soalnya dia enggak pernah ngumpul nunggu orderan lama-lama di sini, kadang sambil keliling ke daerah Margonda atau Cimanggis sana.

Sementara itu, Fahrul menambahkan bahwa mengenai jam kerja antar sesama sopir taksi online sendiri sudah ada semacam kesepakatan bahwa apabila ada orderan penumpang di atas jam 22:00 malam ke daerah Bogor maka akan dicurigai.

Baca:  Jejak Sopir Taksi Online Sebelum Ditemukan Tewas di Gunung Salak

sopir grab korban rampok

"Sebenarnya teman-teman disini juga sudah pada ngerti, banyak juga yang sering nganter ke Bogor. Tapi kalau misalkan ada orderan di atas jam 10 malam, apalagi nganternya jauh ke Bogor ujung sana ya patut dicurigai, karena kalau sudah jam segitu ya rawan juga. Nah, mungkin si abang ini waktu dapat orderan jam segitu tetap diambil sama dia," ujar Fahrul.

Lain lagi yang dikatakan Marsugi (48), Ketua RT 07 Situ Pladen. Marsugi menjelaskan, Justinus termasuk orang yang pendiam namun cukup ramah. Beberapa kali ia bertatap muka ketika Justinus lewat depan rumahnya setelah pulang bekerja. 

"Dia cukup pendiam ya, tapi ramah kalau ketemu, sering negur juga. Biasanya kan pulang malam, jalan ke rumahnya kan lewat jalan depan rumah saya juga, kebetulan depan rumah saya kan ada Poskamling suka rame jadi tempat berkumpul warga sekitar sini. Kalau si abang pulang narik kan bawa mobil yang warna hitam, pas ketemu ya negur juga kadang ngobrol sebentar," imbuh Marsugi.

Jenazah Justinus ditemukan pada Senin, 5 Maret 2018. Saat ditemukan, kondisi pria berusia 40 tahun itu dalam kondisi mengenaskan. Ia tewas dalam kondisi tangan dan kaki terikat di lereng gunung Halimun Salak, Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, pada Senin 5 Maret 2018.

Baca:  Dua Pelajar SMK Pembunuh Sopir Taksi Online Divonis Berbeda

sopir grab korban rampok

Justinus ditemukan dalam posisi tertelungkup di sisi lereng yang dipenuhi semak belukar. Ia merupakan korban perampokan. Sebab, sejumlah harta benda milik Justinus tidak ditemukan di sekitar lokasi.

Dalam olah tempat kejadian perkara (TKP) yang telah dilakukan, pada leher Justinus juga ditemukan bekas luka jeratan yang diduga menjadi penyebab tewasnya sopir taksi online itu.

Sebelum dikabarkan tewas, Justinus tahun yang telah menghilang sejak Sabtu, 3 Maret 2018 itu sempat berkomunikasi dengan pihak keluarga. Kepada istrinya, korban sempat memberikan informasi lokasi keberadaannya. AS

Reporter: Erwin Maulana
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500