Terpidana penjahat perang, Slobodan Praljak saat meminum racun di Pengadilan Mahkamah Pidana Internasional, Belanda, Rabu (29/11/2017)

Sosok Slobodan Praljak, Penjahat Perang yang Bunuh Diri di Pengadilan

Estimasi Baca:
Jumat, 1 Des 2017 16:30:35 WIB

Kriminologi.id - Slobodan Praljak tewas mengenaskan usai minum racun sesaat setelah dirinya menolak tuduhan sebagai penjahat perang dalam peradilan banding di Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY), Belanda, Rabu, 29 November 2017. 

Slobodan Praljak, 72, divonis bersalah pada 2013 atas kejatahannya terhadap warga muslim Bosnia selama Perang Kroasia-Bosnia periode 1992-1994.  Ia kemudian meninggal pada Rabu, 29 November 2017, waktu setempat  di rumah sakit di Denhaag, Belanda.

Mantan Jenderal Dewan Pertahanan Kroasia (HVO) di masa perang Bosnia ini memproklamirkan diri di Bosnia dan Herzegovina selama perang 1992-1995.

Praljak lahir pada 2 Januari 1945 di Capljina, selatan Bosnia dan Herzegovina yang dekat dengan perbatasan Kroasia. Sementara ayahnya, Mirko, adalah seorang pejabat keamanan negara di bekas Yugoslavia setelah Perang Dunia II, seperti dilansir dari Aljazeera.

Baca: Pengadilan PBB Selidiki Bunuh Diri Penjahat Perang Saat Sidang

Pada masa sekolah dasar, Praljak menghabiskan pendidikannya di Siroki Brijeg, dekat Capljina selama enam tahun. Saat sekolah Praljak juga satu kelas bersama Gojko Susak, yang kemudian menteri pertahanan Kroasia.

Praljak kemudian menyelesaikan pendidikan tinggi di Zagreb, Kroasia. Praljak memperoleh tiga gelar universitas pada awal 1970-an. Tiga gelar yang diperolehnya yakni Sarjana Teknik Elektro, bidang sosiologi serta seni drama.

Karir Praljak dimulai saat ia menjadi manajer laboratorium elektronik di Sekolah Tinggi Tesla di Zagreb. Praljak kemudian bekerja sebagai sutradara teater dan serial TV. Pada tahun 1989, bahkan Praljak menyutradarai sebuah film layar lebar.

Pada tahun 1991, Praljak kemudian terjun ke dalam dunia politik, atau empat bulan perang di Kroasia. Praljak kemudian mengajukan diri sebagai komandan militer di Sunja.

Karir Praljak menanjak saat menjadi kolonel tentara Kroasia pada bulan November 1991. Satu tahun kemudian Paljak menjadi Brigadir dan menjabat sebagai asisten menteri pertahanan.

Pada bulan April 1992, dia mengajukan diri sebagai komandan militer di tenggara Herzegovina. Atas permintaannya, Praljak dibebaskan dari tugasnya di Tentara Kroasia dan menjadi Jenderal HVO di Bosnia dan Herzegovina pada bulan Juli 1993. 

Baca: Tak Terima Putusan Sidang, Penjahat Perang Minum Racun Depan Hakim

Praljak kemudian kembali ke satuan Tentara Kroasia pada bulan November 1993. Dalam karirnya, Praljak memegang berbagai posisi, salah satunya sebagai kepala kabinet militer mantan Presiden Kroasia Franjo Tudjman.

Setelah berakhirnya perang, Praljak kemudian menjadi pengusaha dengan mendirikan perusahaan Oktavijan. Sejak 2005 perusahaan ini kemudian dikelola oleh anak tirinya Nikola Babi? Praljak.

Praljak diseret di pengadilan internasional pada 2004 dan diberikan pembebasan sementara. Kemudian tahun 2012 ia di Deenhag.

Praljak merupakan satu dari enam mantan pemimpin politik dan militer Kroasia Bosnia yang telah mengajukan banding atas putusan pengadilan pada tahun 2013 terkait kejahatan perang.

Sebelumnya diberitakan, Pengadilan Internasional bekerja sama dengan penyelidik Belanda mengusut peristiwa bunuh diri Slobodan Praljak di ruang sidang. Petugas akan menyelidiki cara Praljak menyelundupkan racun ke bangunan dengan tingkat keamanan tinggi itu.

Slobodan Praljak, 72, meninggal pada Rabu, 29 November 2017, waktu setempat  di rumah sakit di Denhaag setelah menenggak cairan racun pada botol kecil dalam pembacaan putusan bandingnya di Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY).

Sidang banding ICTY, yang beranggotakan lima orang, memperkuat tuduhan bahwa Praljak melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan penganiayaan, pembunuhan dan pengusiran warga Muslim Bosnia dari wilayah yang direbut kaum nasionalis Kroasia-Bosnia.

Praljak juga dituduh melakukan pemenjaraan keji terhadap tahanan pada saat perang. Sidang banding tersebut juga memperkuat hukuman 20 tahun penjara kepadanya.

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500