Takahiro Shiraishi. Foto: Business Insider

Takahiro Shiraishi, Jagal dari Negeri Sakura

Estimasi Baca:
Sabtu, 4 Nov 2017 09:00:46 WIB

Kriminologi.id - Takahiro Shiraishi terperanjat ketika pintu apartemen yang ditinggalinya diketuk. Tak berpikir panjang, Shiraishi membukakan pintu. Di depan pintu, berdiri tamu berseragam. Oh polisi. Maksud kedatangan polisi ke apartemennya untuk menanyakan keberadaan seorang perempuan 23 tahun yang hilang beberapa hari sebelumnya.

"Dia ada di sini," jawab Shiraishi sembari menunjuk kotak pendingin yang ditaruh di depan pintu apartemennya, seperti dikutip dari Independent.co.uk, Rabu, 1 November 2017.

Polisi kemudian membuka kotak pendingin yang ditunjuk pria 27 tahun itu. Ketika dibuka, kini polisi yang kaget bukan kepalang. Di dalam kotak teronggok dua kepala dan potongan tubuh manusia bercampur kotoran kucing. Ternyata Shiraishi sengaja mencampur mayat dengan tahi serta urine kucing untuk menyamarkan bau bangkai yang menyengat.

Baca: Kriminal dalam Angka: 12 Anak Korban Pembantaian Robot Gedek

Selihai-lihainya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga. Tetangganya mengaku mencium bau tak sedap dari apartemen Shiraishi. Pria itu akhirnya mengaku dia telah membunuh perempuan dan beberapa korban lainnya. Dia menyimpan potongan mayat di kotak pendingin untuk menghilangkan bukti pembunuhan yang dilakukannya. 

Selain menemukan dua mayat, polisi juga menemukan tujuh mayat termutilasi lainnya. Mayat-mayat itu tersimpan di kotak pendingin yang disembunyikan di tempat berbeda di apartemennya. Penemuan bagian tubuh mayat yang termutilasi itu tak utuh. Shiraishi mengaku sebagian dibuang ke tempat sampah bersama barang-barang milik korban.

Laporan media televisi setempat yang menginvestigasi kasus ini menyatakan, Shiraishi diperkirakan mulai membunuh korbannya ketika pindah ke apartemennya yang berada di Zama, Prefektur Kanagawa, sebelah barat daya Tokyo, ibu kota Jepang, pada akhir Agustus 2017.

Baca: Kriminal dalam Angka: 11 Korban Mutilasi Ryan Jagal

Salah satu korbannya yang dibunuh seorang perempuan yang dikenal Shiraishi di media sosial Twitter. Kala itu, perempuan tersebut sedang mencari teman untuk bunuh diri. Namun, karena tak berani melakukannya sendirian, perempuan itu mengajak Shiraishi. Keduanya bersepakat bunuh diri bersama-sama. Setelah itu, mereka memutuskan bertemu di salah satu stasiun kereta di Jepang.

Beberapa hari berselang, seorang laki-laki yang mengaku sebagai saudara dari perempuan tersebut melapor telah kehilangan anggota keluarganya kepada polisi setempat. Polisi kemudian bergerak cepat dan berhasil menemukan identitas Shiraishi setelah melihat rekaman kamera CCTV di area stasiun. Saat itu, Shiraishi dan perempuan yang dikenalnya di media sosial terekam sedang berjalan di luar area stasiun.

Di saat upaya polisi mencari keberadaan Shiraishi, seorang perempuan yang tak mau menyebut namanya, mengaku pernah bertemu Shiraishi. Maka disusunlah sebuah rencana menjebak Shiraishi. Polisi merancang skenario pertemuan antara perempuan anonim itu dengan Shiraishi. Sementara dari kejauhan polisi mengawasi keduanya.

Baca: 6 Skandal Pembunuhan Paling Misterius Sepanjang Masa

Ketika pertemuan berlangsung, polisi tak segera menangkap Shiraishi. Memang ini disengaja agar polisi dapat mengetahui tempat tinggal pelaku. Polisi kemudian membuntuti Shiraishi sampai ke tempat tinggalnya seusai pertemuan tersebut. Di apartemen dua lantai tempat tinggalnya itulah, baru polisi menyergap Shiraishi.

Menurut keterangan polisi setelah menangkap Shiraishi, modus pelaku sebelum melancarkan serangkaian pembunuhan, terlebih dahulu mengajak korban yang dikenalnya melalui media sosial untuk bertemu. Ketika bertemu, pelaku mengajak korban ke apartemennya. Di situlah Shiraishi menghabisi orang-orang malang ini.

Polisi yang memeriksa apartemen Shiraishi menemukan sebuah kotak peralatan perkakas dan gergaji. Polisi menyebut barang-barang itu digunakan pelaku untuk memotong-motong korbannya di kamar mandi apartemennya.

Baca: Begini Peran 4 Tersangka Baru Pembunuh Pria dalam Sumur

Berdasarkan catatan kepolisian setempat, Shiraishi membunuh korbannya mulai dari Agustus hingga Oktober 2017. Total ada 9 orang yang telah dibunuh oleh pria 27 tahun itu. Para korban terdiri atas 8 perempuan dan 1 laki-laki. Dari 8 perempuan itu, empat di antaranya masih remaja.

Terhadap korban laki-laki, Shiraishi dilaporkan mengaku karena terpaksa membunuhnya lantaran mencurigai kehilangan sang kekasih, yang terlebih dahulu dibunuh Shiraishi. Kekasih pria itu korban pertama Shiraishi yang dibunuh akhir Agustus 2017. Oleh Shiraishi, pria tersebut dibunuh lantaran terus-menerus menanyakan keberadaan kekasihnya.

Belum jelas motif pembunuhan yang dilakukan Shiraishi. Namun, media Inggris, Mirror, menyebut aksi Shiraishi didasari nafsu memperkosa korbannya. Selain itu, motif uang juga menjadi penyebab Shiraishi tega membantai korbannya. Sebab, Shiraishi terbukti mencuri 500 ribu yen atau Rp 58 juta dari salah satu korban yang dibunuhnya.

Baca: Polisi Ungkap Pembunuhan 2 Tahun Lalu dari Obrolan Warung

Sementara media Jepang, Kyodo News, melaporkan Shiraishi melakukan aksinya karena depresi. Kata media tersebut, Shiraishi mengaku kepada ayahnya jika hidupnya tidak lagi berarti. Karena itu, dia tak punya alasan lagi untuk hidup. Pesan ini disampaikan Shiraishi pada Juni 2017.

"Tidak ada makna dalam kehidupan ini," ucap Shiraishi, mengutip pesannya saat itu kepada si ayah. "Saya tidak tahu untuk apa saya hidup."

Untuk negara yang memiliki keamanan tingkat tinggi, kasus pembunuhan dengan memutilasi korbannya jarang terjadi. Apalagi selama ini Jepang dikenal sebagai negara tingkat pembunuhan terendah. Pada 2014, tercatat hanya 0,3 pembunuhan yang disengaja per 100 ribu orang. Tak mengherankan, jika peristiwa mengerikan ini mendapat perhatian luas dari masyarakat Jepang.

Baca: Misteri Buron Tersangka 70 Kasus Pembunuhan Terpecahkan

Media lokal di Jepang, dalam pemberitaannya memuat foto-foto tersangka pada saat SMP. Dari foto itu, tergambar sosok Shiraishi yang mempunyai rambut bergelombang dan memakai kawat gigi. Behel ini mengindikasikan bahwa Shiraishi orang dari kalangan menengah ke atas. Ayahnya diketahui mengelola bisnis terkait mobil.

Meski berasal dari keluarga berkecukupan, kehidupan Shiraishi tak serta merta sukses. Laporan AFP mengutip media lokal menyebut, Shiraishi pernah bekerja paruh waktu dalam lingkaran prostitusi di Shinjuku. Pada April 2009 hingga Juli 2011 dia beralih bekerja di supermarket. 

Setelah memutuskan berhenti dari supermarket, kehidupan Shiraishi makin tak jelas. Dia sempat luntang-lantung mencari pekerjaan melalui badan penempatan kerja. Namun, dia tidak pernah mendapat pekerjaan. Pada Februari 2017, Shiraishi dilaporkan pernah ditangkap atas tuduhan terlibat kejahatan terencana. Dia hanya dijatuhi vonis percobaan. TD

KOMENTAR
500/500