Presiden Suriah Bashar Al Assad. Foto: Sana.sy

Tiga Negara Pimpinan Amerika Serang Suriah, Siapa Bashar Al Assad?

Estimasi Baca:
Minggu, 15 Apr 2018 13:30:47 WIB

Kriminologi.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jumat, 13 April 2018, memerintahkan penyerangan militer terhadap Suriah usai tuduhan serangan gas beracun oleh pihak militer pekan lalu, yang menewaskan setidaknya 60 orang. Operasi gabungan bersama Prancis dan Inggris. 

Sosok Presiden Suriah Bashar al-Assad mencuat setelah terjadinya pemberontakan di negara itu sejak 2011. Barat dituding menjadi sosok di belakang para milisi yang terafiliasi dengan sejumlah kelompok.

Bashar al-Assad merupakan presiden kelahiran 11 September 1965 di Damaskus, Suriah. Ia merupakan anak kedua dari mantan Presiden Suriah Hafez al-Assad, dan istrinya Anisa. Hafez naik ke tampuk kekuasaan melalui militer Suriah dan partai politik minoritas Alawit.

Pendidikan Assad ditempuh di Sekolah al-Hurriya Arab-Perancis di Damaskus. Assad menyelesaikan setudinya di jenjang sekolah menengah atas pada tahun 1982 dan melanjutkan studi kedokteran di Universitas Damaskus. Di kampus tersebut Assad lulus pada tahun 1988.

Evakuasi warga dari kota Douma, Suriah (14/4/2018).. Foto: Anadolu News Agency
Evakuasi warga dari kota Douma, Suriah (14/4/2018).. Foto: Anadolu News Agency

Usai menyelesaikan pendidikan tersebut ke London pada tahun 1992 untuk menyelesaikan studinya. Pada akhirnya, Assad harus kembali ke Damaskus setelah kakaknya Basil al Assad yang meninggal dunia akibat kecelakaan pada tahun 1994.

Kemudian pada usia 29, Assad terjun ke dunai politik. Assad bahkan masuk akademi militer di Homs, Damaskus Utara, hingga kemudian dipromosikan menjadi kolonel pada Januari 1999. Selama waktu itu, Assad bahkan menjadi penasihat untuk ayahnya.

Assad kemudian menjabat sebagai pemimpin Partai Ba'ath dan panglima militer pada Juli 2000. Dia kemudian terpilih sebagai presiden, secara resmi dengan mendapatkan lebih dari 97 persen suara.

Dalam pidato pengukuhannya, Assad menegaskan komitmennya pada liberalisasi ekonomi dan berjanji untuk melakukan reformasi politik. Namun Assad secara tegas menolak demokrasi gaya Barat sebagai model yang tepat untuk politik Suriah.

Seperti diberitakan, Amerika Serikat mulai melancarkan serangan militer ke Suriah sebelum fajar, Sabtu, 14 April 2018, dengan dimulai dengan suara ledakan keras bergema di seantero Ibu Kota Suriah, Damaskus.

Titik-titik merah terlihat beterbangan dari darat ke langit, yang terlihat sebagai pertahanan udara terhadap serangan AS itu di Damaskus.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jumat, 13 April 2018, memerintahkan serangan dengan menargetkan kemampuan senjata kimia Presiden Suriah Bashar al-Assad setelah terjadinya serangan gas beracun pekan lalu, yang menewaskan setidaknya 60 orang.

Operasi gabungan dengan Prancis dan Inggris sedang bergerak menuju sasaran dan bahwa mereka siap melanjutkan tindakan itu sampai Suriah menghentikan penggunaan senjata kimia.

"Saya baru saja memerintahkan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat untuk melakukan serangan secara tepat terhadap target-target yang berhubungan dengan kemampuan senjata kimia diktator Suriah Bashar al-Assad," kata Trump dalam pidato yang disiarkan televisi dari Gedung Putih.

Evakuasi warga dari kota Douma, Suriah (14/4/2018).. Foto: Anadolu News Agency
Evakuasi warga dari kota Douma, Suriah (14/4/2018).. Foto: Anadolu News Agency

"Ini bukan aksi manusia. Ini adalah aksi kejahatan yang dilakukan oleh monster," kata Trump. Ia mengacu pernyataannya pada Assad dan peranan presiden Suriah itu dalam serangan senjata kimia.

Kementerian Luar Negeri Suriah pada Rabu, 11 April 2018, mengecam ancaman serangan militer AS terhadap Suriah sebagai mengancam keamanan dan perdamaian internasional. 

Kecaman tersebut dikeluarkan di tengah ancaman AS untuk menyerang Suriah sehubungan dengan tuduhan gerilyawan belum lama ini bahwa militer Suriah menggunakan gas klorin dalam serangan terhadap Douma di Ghouta Timur, pinggir Ibu Kota Suriah, Damaskus.

Kementerian tersebut menyatakan AS bermaksud melindungi kelompok pelaku teror di Ghouta Timur, termasuk di Douma. Kementerian tersebut menyatakan penggunaan senjata kimia telah menjadi dalih yang tanpa dasar.

KOMENTAR
500/500