Razan Ashraf al-Najjar, perawat Gaza yang tewas ditembak tentara Israel. Foto: Facebook Great Return March

Ucapan Perawat Gaza Sebelum Tewas, Razan: Aku Malu Jika Tak di Sana

Estimasi Baca:
Senin, 4 Jun 2018 17:05:16 WIB

Kriminologi.id - Seorang perawat Gaza, Palestina yang menjadi sukarelawan di kementerian Kesehatan Gaza, tewas ditembak tentara Israel. Razan Ashraf al-Najjar ditembak oleh penembak jitu tentara Israel ketika dia sedang berusaha mengevakuai para demonstran yang terluka di perbatasan barat Israel.

Razan Ashraf Abdul Qadir al-Najjar merupakan gadis kelahiran tahun 1996. Ia adalah anak sulung enam bersaudara dari Ashraf al-Najjar. Razan tinggal di Khuzaa, sebuah desa di dekat perbatasan dengan Israel.

Sebagai relawan Razan pernah menjalani pelatihan secara formal sebagai paramedis di Khan Younis di Rumah Sakit Nasser. Sejak saat itu ia aktif di Lembaga Bantuan Medis Palestina, sebuah organisasi kesehatan.

Razan telah menjadi penyelamat dalam protes di sepanjang pagar pemisah Jalur Gaza dan Israel.

Melansir The New York Times, Senin, 4 Juni 2018, sebagai pekerja medis darurat sukarela, Razan mengatakan ingin membuktikan bahwa perempuan memiliki peran dalam masyarakat konservatif Palestina di Gaza.

"Menjadi tenaga medis bukan hanya pekerjaan untuk seorang pria," kata Razan al-Najjar, 20, dalam sebuah wawancara di kamp protes Gaza bulan lalu. 

Satu jam sebelum senja pada hari Jumat, 1 Juni 2018, dia berlari ke depan untuk membantu seorang demonstran yang terluka.

Sementara itu dalam wawancara dengan Al Jazeera pada 20 April, Razan mengatakan bahwa dia merasa itu adalah "tugas dan tanggung jawabnya" untuk hadir membantu yang terluka.

"Tentara Israel berniat untuk menembak sebanyak yang mereka bisa," katanya pada saat itu. 

"Ini gila dan aku akan malu jika aku tidak ada di sana untuk bangsaku."

Menurut salah seorang saksi, tentara Israel menembakkan dua atau tiga peluru dari seberang pagar. Peluru tersebut mengenai tubuh Razan dan dinyatakan meninggal usai peristiwa itu.

Dia menjadi orang Palestina ke-119 yang dibunuh oleh pasukan Israel sejak protes menyerukan agar hak Palestina untuk kembali ke tanah mereka yang diusir dari tahun 1948. 

Sejak 30 Maret, warga Palestina telah menggelar unjuk rasa damai di Jalur Gaza. Mereka menuntut "hak pulang" ke tanah kelahiran mereka dan memprotes blokade Israel atas Gaza sejak 2006.

Ketegangan meningkat di wilayah Palestina sejak Desember lalu, ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan keputusannya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Pada tanggal 14 Mei, AS memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem, memicu kecaman dari seluruh dunia Arab dan Muslim dan semakin melancarkan hasrat di wilayah Palestina.

Sejak 30 Maret, setidaknya 118 warga Palestina tewas  dan ribuan lainnya terluka  oleh tembakan tentara Israel di Jalur Gaza timur.

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500