Rumah Maman, sopir truk yang ditemukan tewas di sungai Kalimalang, Bekasi (28/05/2018). Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id.

Ucapan Terakhir Maman, Sopir Pikup ke Istrinya Sebelum Ditemukan Tewas

Estimasi Baca:
Senin, 28 Mei 2018 13:45:58 WIB

Kriminologi.id - Ucapan terakhir Maman (42) sopir mobil pikap yang ditemukan tewas di sungai Kalimalang pada istri tercintanya terlontar usai makan malam. 

Ningsih (37), istri Maman sama sekali tak menyangka kalau pertemuan Jumat, 25 Mei 2018 malam itu merupakan salam perpisahan dari suaminya. 

Ibu tiga anak ini masih ingat betul ucapan terakhir suaminya saat keluar rumah usai makan malam, yakni ingin mencari penghasilan tambahan. 

"Pamit mau ambil puing, lumayan ada tambahan kata dia. Dia sengaja ambil karena masukin puingnya pake beko (alat berat) biasanya pake tangan, makanya dia ambil," kata Ningsih ditemui Kriminologi.id, Senin, 28 Mei 2018.

mobil pick up tercebur ke kalimalang
Mobil pikap tercebur ke sungai Kalimalang, Bekasi.

Ningsih mengatakan profesi sopir pengangkut puing baru dijalani suaminya selama 6 bulan terakhir. Sebelumnya, Maman mencari nafkah dengan cara mengumpulkan barang rongsokan menggunakan gerobak.

Namun, penghasilan sebagai pengumpul rongsokan itu tak pernah menentu. Kemudian, Maman beralih menjadi sopir pengangkut puing yang ditawarkan dari temannya dengan upah Rp 200 ribu per hari.  
 
"Belum lama kerja bawa puing, baru 6 bulanan diajak temennya lumayan kata dia buat tambahan anak-anak," kata Ningsih.

Sosok Maman di mata Ningsih merupakan suami tangguh yang tak kenal menyerah dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ningsih menjelaskan, setiap harinya Maman berangkat pagi dan pulang malam demi memenuhi kebutuhan keluarga tanpa pernah sedikitpun mengeluh. 

"Dia suami hebat, pulang jam 8 malem, kalau ada kerjaan tambahan berangkat lagi, gak pernah ngeluh cape atau apa yang penting kebutuhan keluarga terjamin," kata Ningsih.

Ningsih sempat terlihat meneteskan air matanya seakan masih tak percaya kalau tulang punggung keluarga telah meninggalkan dirinya dan tiga anaknya tersebut. 

Ningsih tinggal bersama Maman di rumahnya Jalan H Ilyas, RT 01/12, Cikunir, Kota Bekasi. Rumah Ningsih berada di dalam sebuah gang sempit dengan pintu gerbang besi berwarna hitam yang menjadi halaman depan rumahnya. 

Sejak dikabarkan hilang hingga ditemukan tewas, Ningsih sama sekali tidak berani untuk mendatangi lokasi. Alasannya, dirinya tak kuasa menahan kesedihan kehilangan suaminya. 

Pada Sabtu, 26 Mei 2018 malam, Ningsih yang saat itu di rumah mendapat kabar suaminya kecelakaan. Mobil muatan puing yang dikemudikan Maman mengalami rem blong saat menanjak di jembatan KH Santung, Bekasi Selatan hingga akhirnya tercebut ke Kalimalang.

"Mobilnya gak kuat nanjak mundur terus nyebur ke Kalimalang, suami saya ada di dalam gak muncul-muncul," katanya.

Mendengar kabar tersebut, Ningsih tak bisa berbuat banyak selain berdiam diri di dalam rumah. Hanya rekan-rekan Maman, suaminya yang ikutan membantu dan memberikan kabar tentang suaminya. 

"Saya dikasih kabar terus, mobil bisa diangkat pagi, tapi bang Maman hilang. Saya gak berani datang ke sana, takut gak kuat lihat suami saya," katanya.

Keesokan harinya, jasad Maman ditemukan sekitar 1 kilometer dari lokasi awal Maman tercebur. Kemudian, jasadnya dibawa ke RSUD Bekasi setelah itu dibawa ke rumah. 

"Saya gak berani lihat, takut sedih, anak-anak juga udah nangis semua, di rumah cuma sebentar, abis itu langsung dibawa ke Cikarang, buat dimakamin," kata Ningsih.

Reporter: Rahmat Kurnia
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500