Dok. Zulkifli Muhammad Ali. Foto: Facebook/Zulkifli Muhammad Ali

Ustaz Zulkifli, Penceramah Akhir Zaman Tersangka Ujaran Kebencian

Estimasi Baca:
Kamis, 18 Jan 2018 06:05:56 WIB

Kriminologi.id - Zulkifli Muhammad Ali ditetapkan sebagai tersangka ujaran kebencian oleh kepolisian atas ceramahnya. Zulkifli kerap membawakan materi ceramahnya yang mengangkat tema-tema akhir zaman. Ustaz asal Payakumbuh, Sumatera Barat itu diduga berceramah dalam suatu kesempatan yang mengandung Suku, Agama, Ras dan Antargolongan atau SARA. 

Dalam video klarifikasi Zulkifli yang diunggah akhir November 2017 oleh akun Youtube Uzma Media TV Channel dengan judul “Wajib Ditonton [Klarifikasi Video Viral 2016] | Ust. Zulkifli M. Ali, Lc., MA”, ia menyatakan bahwa dirinya sudah mencabut pernyataan dalam bentuk ceramah yang ada di video viral itu.

“Ini sudah diklaifikasi dan dikatakan hoaks. Maka cukup, tutup pintu itu. Saya sudah mencabut semuanya. Dan saya sudah sampaikan dalam ceramah saya apabila pihak yang berwenang dari pemerintah, dari kepolisian, penerangan Mabes TNI  mengatakan itu tidak benar. Cukup,” katanya dalam video tersebut.

Ia juga mengatakan, pihaknya sudah meminta agar video yang sudah dilkarifikasi tidak benar agar tidak disebarluaskan.

“Maka jangan lagi disebarkan sesuatu yang sudah diluruskan pemerintah,” katanya.

Kriminologi yang mencoba mengklarifikasi terkait penetapan tersangka itu, Rabu, 17 Januari 2018, namun nomor telepon Zukifli tidak aktif.

Berdasarkan penelusuran Kriminologi, Rabu, 17 Januari 2018, penceramah asal tanah Minang itu lahir pada 15 November 1974 dan aktif berceramah ke berbagai provinsi di Indonesia. Zulkifli menghabiskan masa sekolahnya di bawah naungan pendidikan Muhammadiyah Curup, Provinsi Bengkulu. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Perguruan Thawalib Padang Panjang. 

Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke kampus Al Azhar Mesir dan mengambil Kulliyatul 'Ulum (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau MIPA). Zulkifli juga diketahui pernah menempuh pendidikan di Tripoli, Libia.

Baca: Ceramah Bernada SARA, Ustaz Zulkifli Muhammad Ali Jadi Tersangka

Sejumlah materi ceramah Zukifli banyak beredar di media sosial dan tersebar luas di situs berbagi video Youtube. Zulkifli juga aktif di sejumlah lembaga pendidikan, salah satunya adalah sebagai Pengasuh dan Ketua Dewan syariah Yayasan Alhuffazh. Zulkifli juga diketahui menjabat sebagai pembina di Madrasah Mulazamah Ulum Syariyah Payakumbuh.

Dalam banyak ceramahnya, ustaz yang dikenal dengan sebutan ustaz Akhir Zaman ini menekankan tema-tema akhir zaman dengan banyak bermunculan fitnah. Tema akhir zaman tersebut yang dimuat di berbagai media sosial menurut Zulkifli memiliki dampaknya luar biasa terhadap peningkatan keimanan.

Tema ini merupakan inti dari ceramah Akhir Zaman yaitu mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dipersiapkan untuk hal tersebut.

Zulkifli Muhammad Ali ditetapkan sebagai tersangka ujaran kebencian oleh kepolisian. Ia disangkakan melakukan ceramah dalam suatu kesempatan yang berisikan tentang SARA.

Dalam sebuah ceramahnya, Zulkifli Muhammad Ali mengatakan, pada 2018 akan banyak kaum muslimin Indonesia yang akan dibuang ke laut dan disembelih oleh kaum Komunis, Cina, Syiah dan Liberal. 

Baca: Kasus Viktor Laiskodat Ditunda Hingga Pilkada Usai

Indonesia, kata dia, akan menjadi negara komunis dengan jumlah masyarakat Cina yang masuk ke Indonesia mencapai ratusan juta. Zulkifli juga diduga memprovokasi umat Islam untuk berani melawan pemerintahan yang sah saat ini hingga mati. 

Atas ceramahnya itulah, Zulkifli ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan surat panggilan bernomor: S.Pol/25/I/2018/ Dittipidsiber. Ia diminta memenuhi panggilan Penyidik Direktorat Tindak Pidana Dittipid Siber pada Kamis, 18 Januari 2018 pukul 09.00 WIB. 

Surat panggilan tersebut dilayangkan berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP /1240/XI/2017/ Bareskrim tertanggal 21 November 2017 dan Surat Perintah Penyidikan Nomor: SP. Sidik/73/I/Dittipidsiber tertanggal 3 Januari 2018.

Zulkifli disangkakan melanggar pasal 16 Jo pasal 4 huruf b undang-undang RI No 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dan atau Pasal 45A ayat 2 Jo Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dan atau Pasal 14 ayat 2 UU RI No 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500