Ketua KPAI Susanto menyesalkan minimnya laporan pernikahan di bawah umur di Kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Foto: Walda Marison/Kriminologi.id

2 Remaja Blitar Gantung Diri, KPAI: Kenali Tanda Perilaku Bunuh Diri

Estimasi Baca:
Jumat, 1 Jun 2018 18:05:48 WIB

Kriminologi.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengimbau dan mendorong para orang dewasa di sekitar anak, baik orang tua maupun guru untuk memiliki kepekaaan sehingga mampu mencegah anak-anak untuk melakukan tindakan bunuh diri. Hal itu disampaikan terkait kasus bunuh diri yang dilakukan dua remaja asal Blitar berinisial EPA (16) dan BI (15), 

"Alasan seorang remaja melakukan percobaan bunuh diri bisa begitu rumit yang sekaligus pada sisi lain, mungkin bukan suatu hal yang dianggap berat bagi orang dewasa pada umumnya. Oleh karena itu, jangan langsung menghakimi remaja yang sedang dirundung masalah," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, dalam keterangannya, Jumat, 1 Juni 2018.

Beberapa hal yang harus dilakukan orang dewasa di sekitar anak, seperti guru dan orang tua, menurut dia adalah memiliki sensitivitas (kepekaan). Yakni, mampu mengenali tanda-tanda remaja yang berniat melakukan bunuh diri, dan harus segera mengupayakan langkah pencegahan

"Jangan abaikan tanda-tanda perilaku remaja yang berniat bunuh diri. Dengarkan semua yang dia ingin sampaikan dan selalu pantau tindakannya," ujarnya. 

Retno juga menyarankan kepada para orang tua dan guru agar tidak mengabaikan ancaman bunuh diri remaja. Selain itu tidak juga melabeli remaja sebagai individu yang suka bersikap berlebihan. 

"Cobalah untuk bertukar perasaan dengan anak, dan pastikan dia tahu kondisi yang dialaminya adalah normal. Tiap orang pernah mengalami masa-masa terpuruk dan pada akhirnya semua akan baik-baik saja," ucapnya. 

Kasus meninggalnya dua remaja di Blitar dalam waktu yang berdekatan mengejutkan banyak pihak. Kasus pertama adalah meninggalnya siswi SMP yang bernama EPA (16 tahun) akibat gantung diri di kamar kosnya. Diduga EPA bunuh diri karena takut tidak bisa diterima masuk di salah satu SMA favorit di kota Blitar, karena terbentur sistem zonasi.

Dua hari setelah kematian EPA, warga Blitar dikejutkan kembali dengan berita kematian BI yang merupakan pelajar yang baru dinyatakan lulus dari SMP di Kabupaten Blitar. 

Warga Kecamatan Kanigoro itu nekat mengakhiri hidup dengan gantung diri. Pelajar 15 tahun itu ditemukan tewas tergantung pada seutas tali tambang di kamarnya. Motif bunuh diri diduga karena ingin dibelikan motor. 

Retno menuturkan, usia remaja bagi sebagian orang bisa menjadi masa-masa yang sulit serta bisa menjadi periode yang dipenuhi oleh kekhawatiran dan stress.

Remaja dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya untuk bertindak secara bertanggung jawab, namun sekaligus sering dituntut untuk berprestasi, dan secara bersamaan juga memasuki masa pubertas. 

Menurutnya, kebutuhan remaja untuk memiliki kebebasan sering kali bertentangan dengan peraturan dan harapan di dalam lingkungannya, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat yang lebih luas.

"Sehingga menimbulkan pemberontakan dan jika tidak mampu dikelola akan menimbulkan stress, depresi, bahkan bisa bunuh diri," tuturnya.

KOMENTAR
500/500