Ilustrasi Pemerkosaan. Ilustrasi: Kriminologi.id

ABG di Bogor Tewas Depresi Usai Diperkosa Alami Infeksi Daerah Vital

Estimasi Baca:
Rabu, 11 Jul 2018 19:55:49 WIB

Kriminologi.id - FN, warga Kampung Gunung Putri Selatan, Kelurahan Gunung Putri, Citeureup, Bogor, Jawa Barat, meninggal karena depresi. Remaja putri 16 tahun itu diduga mengalami depresi berat usai diperkosa. 

Kata tetangga setempat, FN diduga meninggal akibat infeksi di daerah vital. Kriminologi.id mencoba mendatangi kediaman FN. Saat didatangi, tidak ada satu pun anggota keluarga FN terlihat. 

Agus, salah seorang tetangga FN mengabarkan kalau keluarga FN sudah bertolak ke Jakarta. Dari keterangan Agus ini diketahui kalau Selasa, 10 Juli 2018 pagi itu sempat ada beberapa orang polisi datang ke rumahnya.

"Mungkin mau minta keterangan dari bapak atau ibunya saya enggak tahu persis," kata Agus, Rabu, 11 Juli 2018.

Agus kemudian bercerita tentang pekerjaan orang tua FN sebagai pekerja kontraktor proyek MRT di Jakarta. Menurut dia, sang ayah, Eko sangat jarang pulang ke rumah karena pekerjaannya menuntun demikian. Sedangkan istrinya atau ibu FN merupakan buruh pabrik garmen di dekat gerbang tol Gunung Putri. 

Agus mengaku tidak mengetahui pasti FN tewas diduga karena diperkosa atau tidak.

"Saya belum tahu kejadian yang sebenarnya, mas. Setahu saya, FN meninggal memang karena sakit. Saya belum tahu tentang dia diperkosa, yang ngasih tahu saya cuma mas Suryono, ketua Karang Taruna kampung sini. Katanya FN kemungkinan mengalami infeksi di daerah vitalnya," ucapnya.

Sementara tetangga FN, Ratman dan istri kepada Kriminologi.id menceritakan kondisi yang kurang lebih sama terkait dugaan yang dialami FN. Istri Ratman menjelaskan, pada Selasa, 10 Juli 2018, sekitar pukul 04.20 WIB sebelum jam salat Subuh, Eko, ayah FN, sempat mendatangi kediamannya dan menggedor-gedor pintu untuk meminta pertolongan.

"Bude tolong bude, tolongin FN'. Saya langsung datang ke rumah," ujar istri Ratman. 

FN pun langsung mendapatkan pertolongan dengan memegang seluruh badannya sambil diberikan pijatan di tangan.

"Saya rasain denyut nadinya kok kayak yang enggak ada denyutan. Saya usap-usap keningnya. Dalam hati saya, astaghfirullah, FN udah meninggal. Tapi saya enggak berani bilang ke bu Artin sama mas Eko, saya kan bukan dokter, kalau saya bilang FN sudah meninggal pasti mereka kaget. Akhirnya saya cuma bilang FN pingsan, harus dibawa ke rumah sakit," ucap istri Ratman seraya memperagakan kembali ekspresi ketika dia memegangi badan Ria.

Ilustrasi pemerkosaan anak di bawah umur. Pixabay.com
Ilustrasi pemerkosaan anak di bawah umur. Pixabay.com

Sementara Ratman menjelaskan, karena belum ada rumah sakit yang buka pada waktu itu, Eko memutuskan membawa FN ke Poliklinik Indocement yang terletak tidak jauh dari kediamannya.

FN pun dibawa ke Poliklinik Indocement menggunakan mobil ambulans yang datang setelah ditelepon oleh anak pemilik kontrakan. Semula FN akan dibawa ke Puskesmas Gunung Putri, namun batal karena pertimbangan waktunya yang tidak memungkinkan serta peralatan yang kurang lengkap. 

Setiba di poliklinik, FN langsung mendapatkan penanganan dari dokter jaga dan tenaga medis. Hasil pemeriksaan dokter menjelaskan FN sudah tidak bernyawa lagi. Ratman mengira, ketika FN sudah dinyatakan meninggal dunia, jenazahnya akan segera dikuburkan. Namun ternyata tidak.

Adalah Suryono selaku ketua Karang Taruna setempat yang menjelaskan, FN harus dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur untuk divisum.

"FN harus divisum pakde, ada masalah panjang, saya kaget dengernya juga," tutur Ratman.

FN pun dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur pada hari yang sama ketika dia meninggal, Selasa, 10 Juli 2018. Ketika dipulangkan pada sekitar pukul 17.00 WIB, Ratman mengetahui kejadian yang sebenarnya dari Suryono.

"Dia baru pulang lagi ke sini itu jam 5 sore, lama sekali di sana. Katanya harus ngantre buat divisum. Kata mas Yono, kemungkinan besar FN diperkosa sama teman-temannya. Aduh, pas denger cerita itu saya langsung kaget, sedih, mas," tutur Ratman.

 MSA
KOMENTAR
500/500