Ilustrasi pencabulan anak. Ilustrasi: Pixabay

Alasan Sakit, Pelaku Pencabulan Siswi SD di Pekanbaru Belum Ditahan

Estimasi Baca:
Sabtu, 1 Sep 2018 19:35:39 WIB

Kriminologi.id - Pegawai tata usaha atau TU Universitas Riau berinsial RP, pelaku pencabulan siswi SD hingga hamil mengalami serangan jantung. Alasan itu yang membuat polisi belum menahan RP. 

Sosok RP merupakan salah satu pelaku pencabulan terhadap siswi SD hingga korban trauma dan hamil.

"Sekarang dia masih dirawat di Rumah Sakit Syafira Pekanbaru," ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Pekanbaru Kompol Bimo Aryanto, Sabtu, 1 September 2018.

Bimo menjelaskan, polisi menangkap RP di rumahnya pada Jumat, 31 Agustus 2018. Saat ditangkap, pelaku RP mendadak alami serangan jantung. Oleh sebab itu, kata Bimo, pelaku langsung digelandang ke Rumah Sakit untuk menjalani perawatan sebelum ke Mapolresta Pekanbaru. 

RP merupakan satu dari dua terduga pelaku perbuatan tidak senonoh terhadap siswi SD di kota itu. Selain RP, pelaku lainnya berinisial US (60).

Keduanya merupakan pegawai tata usaha pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Universitas Islam Riau. Terkait dengan keberadaan pelaku US, kata Bimo, pihaknya masih melakukan perburuan untuk menangkap pelaku tersebut.

Kasus dugaan pencabulan yang dialami siswi kelas 6 SD itu terungkap saat kondisi fisik korban mulai membesar. Ketika diperiksa oleh dokter, ternyata korban telah hamil 7 bulan.

Kasus ini kini menjadi perhatian Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak Riau (LBP2AR).

Ketua LBP2AR Rosmaini mengatakan dua pelaku itu melakukan pencabulan di berbagai tempat, termasuk hotel. Modus kedua pelaku adalah menjemput korban sepulang dari sekolah.

Kedekatan antara korban dan pelaku membuat korban dengan mudah diperdaya. Pelaku RP, kata Rosmaini, merupakan tetangga korban. Setiap hari, mereka selalu berkomunikasi, baik dengan korban maupun dengan keluarga korban.

Bahkan, kata Rosmaini, US bukan orang lain bagi korban, bahkan masih memiliki hubungan darah. Hubungan asusila terhadap korban ini sudah dilakukan sejak awal 2018.

Untuk menutupi perbuatannya, mereka mengiming-iming korban dengan uang jajan.

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Syahrul Munir
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500