Diskusi Akademik Menjangkau Anak-anak yang Masih Tereksklusi, Foto: Yenny Hardiyanti/Kriminologi.id

Anak Keluarga Miskin 6 Kali Berpotensi Melahirkan di Usia Dini

Estimasi Baca:
Kamis, 28 Jun 2018 20:05:33 WIB

Kriminologi.id - Anak-anak perempuan dari keluarga miskin di Indonesia 6 kali lipat berkemungkinan melahirkan di usia anak-anak dibandingkan anak perempuan dari keluarga yang lebih mapan secara sosio-ekonomi. Selain itu, akibat kesenjangan itu, sekitar seperlima anak perempuan di Indonesia telah menikah di usia sebelum 18 tahun. 

Indonesia berada dalam peringkat ke 105 dari 175 negara di mana anak-anak harus mengakhiri masa kanak-kanaknya lebih cepat dari usianya. Angka ini turun empat peringkat dari tahun sebelumnya. Laporan itu dirilis Save the children bersama dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik, dalam Indeks End of Childhood, The Many Faces of Exclusion: End of Childhood Report 2018.

Indeks tersebut membandingkan sejumlah 175 negara dengan seperangkat indikator yang mewakili peristiwa kehidupan anak-anak, termasuk yang menandakan adanya gangguan masa kanak-kanak mereka yakni kesehatan buruk, kekurangan gizi, tidak mendapat (tereksklusi) dalam hal pendidikan, mengalami disabilitas, pekerja anak, perkawinan usia anak, kehamilan usia muda atau remaja, dan kekerasan ekstrem. 

"Di dalam laporan Save the children, Indonesia turun empat peringkat dari tahun sebelumnya. Indonesia berada di posisi 105. Sedangkan peringkat teratas diduduki oleh Singapura, Slovenia, Norwegia, Swedia, dan Finlandia," kata Ketua Pengurus Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Selina Patta Sumbung dalam Dialog Akademik Menjangkau Anak-anak yang Masih Tereksklusi di Grand Kemang, 28 Juni 2018.

Selina mengatakan, laporan yang dikeluarkan oleh Save the Children juga mengemukakan bahwa sejumlah anak-anak di seluruh dunia, atau sekitar 1,2 miliar anak terancam putus masa kanak-kanaknya.

Penyebabnya, masa kanak-kanak tersebut, kata Selina, disebabkan oleh konflik, kemiskinan, atau adanya diskriminasi terhadap anak perempuan.

Tingkat kesenjangan itu, kata Selina, juga masih sangat tinggi di Indonesia. Menurutnya, anak-anak perempuan dari keluarga miskin sekitar 6 kali lipat berkemungkinan melahirkan di usia anak-anak dibandingkan anak perempuan dari keluarga yang lebih mapan sosio-ekonomiknya.

Meski secara umum kondisi anak-anak di seluruh dunia lebih baik dari tahun lalu, namun kata Selina, ada tren global yang juga terjadi di Indonesia dan perlu mendapat perhatian dari para pemangku kepentingan.

Tren tersebut diantaranya sekitar 28 juta anak di dunia terlibat konflik atau diskriminasi, kesenjangan rasio antara kaya dan miskin dalam pernikahan usia dini, dan kurangnya gizi semakin melebar. Bahkan menurut data yang dimiliki pihaknya, Selina menjelaskan, sekitar seperlima anak perempuan di Indonesia telah menikah di usia sebelum 18 tahun. 

"Di Indonesia, 10 persen dari perempuan remaja telah menjadi ibu atau hamil dengan anak pertama di usia antara 15-19 tahun," kata Selina.

Ia berharap, dengan adanya laporan ini, semua pemerintah termasuk pemerintah Indonesia dapat memastikan tidak akan ada lagi anak yang meninggal akibat hal-hal yang tak bisa dicegah.

Selain itu, tidak ada lagi anak yang menjadi korban kekerasan ekstrim, dirampas masa depannya karena malnutrisi, pernikahan dini, kehamilan di usia anak ataupun menjadi buruh anak. 

"Maka, semua anak harus mendapatkan akses terhadap pendidikan berkualitas," katanya tegas. AS

 NL
KOMENTAR
500/500