Gambar kekerasan anak. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Bekas 3 Anggota Pedofil Loly Candy Buat Grup Baru Penyuka Anak-anak

Estimasi Baca:
Senin, 25 Jun 2018 19:15:55 WIB

Kriminologi.id - Bekas anggota Loly Candy sebanyak 3 orang masing-masing berinisial WR (19), AD (33), dan IW (26) ditangkap Tim Subdit Direskrimsus Polda Metro Jaya. Mereka ditangkap karena diketahui telah membuat grup baru penyuka anak-anak setelah lepas dari Loly Candy. Hal tersebut terungkap setelah tim melakukan penyelidikan selama lebih dari setahun. 

“Perkembangan kasus 2017 pasti kenal dengan Loly Candy. Ketiga tersangka ini memakai dan mendistribusikan video porno anak-anak di 63 negara melalui media sosial,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Argo Yuwono, di Jakarta, Senin, 25 Juni 2018.

Menurut Argo, penyebaran video porno anak-anak oleh grup pedofilia ini dilakukan secara lintas negara. Dalam pengungkapan kasus ini, polisi melibatkan Kepolisian Federasi Amerika atau FBI. Para pedofilia yang tergabung di Group Loly Candy sebelumnya telah dipecah menjadi 40 grup Whatsapp. Setiap grup, dihuni oleh sekitar 200 anggota.

“Ketiga orang ini diduga sebagai admin dari puluhan group pecahan Loly Candy tersebut. Maka diamankan. Jadi, WR, AD, dan IW menyebarkan di WA group maupun Twitter. Ada 40 WA grup,” ujar Argo.

Dari pengungkapan kasus ini, kata Argo, pihaknya mengamankan barang bukti berupa satu buah ponsel merek Lenovo, simcard, satu CPU merk Castello, Router dan Flashdisk berwarna biru.

Menanggapi terungkapnya kasus ini, Ketua KPAI, Susanto, mengapresiasi kinerja tim Cyber Crime Polda Metro Jaya. Pasalnya, sudah sejak setahun terakhir ini KPAI terus memantau kelanjutan dari grup Loly Candy dan pembagian sel-sel dari pecahan grup tersebut.

"Saya turut mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Polda Metro Jaya. Pergerakan pornografi bukan di Indonesia saja,” ucap Susanto.

Atas perbuatannya, ketiga pelaku dikenakan pasal berlapis. Mereka didakwa dengan UU ITE, UU Pornografi dan UU Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun. Selain itu, juga dikenakan denda paling banyak Rp 5 miliar. TD

Reporter: Dimeitri Marilyn
Penulis: Tito Dirhantoro
KOMENTAR
500/500