Seorang polisi menyelamatkan seorang bocah saat serangan bom di Polrestabes Surabaya. Foto: Ist/Kriminologi.id

Bocah Saksi Kunci Bom Polrestabes Surabaya, Arist: Pulihkan Mentalnya

Estimasi Baca:
Selasa, 15 Mei 2018 15:45:20 WIB

Kriminologi.id - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait, mengatakan pihaknya akan segera memberikan pendampingan kepada bocah berusia 8 tahun yang menjadi saksi kunci bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya, Senin, 14 Mei 2018. 

Pendampingan yang dilakukan kata Arist, adalah dengan memulihkan mental bocah tersebut untuk menurunkan kadar radikal anak tersebut. 

Hal ini dikatakan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait, pada Selasa, 15 Mei 2018, di kantornya di kawasan Jakarta Timur. 

"Besok kami akan berangkat ke Surabaya untuk menemui anak itu langsung. Kami juga akan berkoordinasi dengan pihak pengamanan terkait," ujar Arist.

Arist menilai, korban anak tersebut bukan sebagai pelaku pengeboman, melainkan korban dari penyebaran ideologi radikal. Namun, untuk menjalankan programnya ini, pihaknya masih menunggu kondisi korban agar lebih stabil.

Saat ini, menurutnya, anak tersebut masih berada dalam penanganan medis di rumah sakit. Menurut Arist, pendampingan psikoterapi merupakan salah satu program untuk menurunkan tingkat atau kadar radikal (deradikalisasi) pada diri teroris.

Arist mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) sejak 2 tahun lalu. Terkait peristiwa ini, pihaknya akan membentuk tim deradikalisasi untuk melindungi anak-anak dari paham radikalisme.

"Kami menangani anak-anak teroris, termasuk orang yang sudah terpidana. Program ini sudah berjalan di seluruh Indonesia, dan akan kami fokuskan di Surabaya," kata Arist.

Terkait dengan akibat dari insiden bom bunuh diri, pihaknya menghimbau agar masyarakat juga mengambil peran untuk membentengi anak-anak dari paham radikal ini.

"Masyarakat harus mengawasi anak anak dari paham radikalisasi. Kemungkinan masuknya paham tersebut bisa datang dari mana saja, tidak terkecuali dari orangtua sendiri," kata Arist.

Sebelumnya, para pelaku bom bunuh diri di pintu gerbang Markas Polrestabes Surabaya merupakan satu keluarga. Mereka terdiri dari ayah yakni Tri Murtiono, ibu bernama Tri Ernawati, dan dua anak laki-laki bernama Moh Dari Satri dan Moh Dafa Amin.

Seorang anak perempuannya terlempar saat bom meledak. Ia berhasil diselamatkan oleh anggota Polrestabes Surabaya. YH/

Reporter: Walda Marison
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500