Ilustrasi kekerasan anak. Ilustrasi: Pixabay

Cara Pelaku Perdagangan Orang Sasar Anak di Media Sosial

Estimasi Baca:
Kamis, 2 Ags 2018 12:05:39 WIB

Kriminologi.id - Pelaku perdagangan orang di media sosial yang menyasar anak-anak lebih dulu mengenali karakter korban agar merasa nyaman dengan pelaku. Kejataan tersebut kini beralih menggunakan teknologi karena prosesnya dinilai lebih cepat dan melampaui lintas batas negara.

End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking Of Children For Sexual Purposes atau ECPAT mengungkap para pelaku perdagangan orang lebih dulu berselancar di media sosial untuk mencari dan mengenali calon korbannya.

“Biasanya mereka akan mencoba memprofiling anak-anak dari sosmed (media sosial). Anak-anak yang menjadi target itu biasanya akan dilihat, apa kesukaannya, minat dan bakatnya,” kata Andy Ardian, program manager ECPAT Indonesia, melalui sambungan telepon kepada Kriminologi.id, Rabu, 1 Juli 2018.

Andy menambahkan, usaha pelaku tersebut dilakukan sehingga untuk membuat calon korban merasa nyaman dengan pelaku.

Organiasasi yang bergerak dalam penghentian eksploitasi seksual komersial anak atau ESKA juga mencatat, temuan kasus eksploitasi anak itu media sosial Facebook paling tinggi.

Hal itu dikarenakan Facebook menerapkan aturan cukup ketat sehingga ketika ada komunikasi-komunikasi kejahatan seksual anak akan terdeteksi oleh sistem tersebut.

Andy juga menyinggung, kasus perdagangan orang ke Cina dengan modus kawin kontrak yang diungkap Polda Jawa Barat beberapa waktu lalu sudah pernah terjadi. Saat ini para pelaku menggunakan teknologi informasi.

“Kalo kawin kontrak sudah terjadi sebenarnya. Kasus-kasus pertama di Singkawang yang anak-anak dikirim untuk kawin kontrak. Tapi di Singkawang itu orang sudah mulai sadar kepedulian mereka, karena banyak kasus anak-anaknya pulang stres, ada yang cacat,” ujar Andy.

Sebelumnya menurut Andy, terkait maraknya perdagangan orang yang terjadi di Indonesia, pemerintah didorong untuk terus mengedukasi masyarakat terkait pengunaan media sosial.

Menurutnya pemerintah harus mengedukasi masyarakat tentang keamanan di dunia internet, termasuk mensosialisasikan kriteria usia di medias sosial.

Diberitakan sebelumnya, Polda Jawa Barat mengungkap penjualan manusia ke Cina yang sudah berlangsung pada 2017 hingga Juli 2018 dengan modus kawin kontrak.

Sindikat perdagangan manusia berjumlah tiga orang masing-masing berinisial TDD, GC dan YH memanfaatkan media sosial Facebook untuk berkomunikasi dalam menyelundupkan sejumlah wanita asal Indonesia ke Cina. 

Para korban yang merupakan wanita berusia 16-21 tahun, diiming-iming mendapat penghasilan besar jika mau dikawini secara kontrak. Pengungkapan kasus itu berkat salah satu korban yang berhasil kabur dan kemudian melaporkan salah satu Polres di Jabar.  AS

Reporter: Achmad Sakirin
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500