Konferensi pers Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI di Kantor KPAI, Kantor KPAI Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Senin (28/05/2018). Foto: Walda Marison/Kriminologi.id

Catatan Kritis KPAI Usai Remaja Putri Bunuh Diri Diduga karena Zonasi

Estimasi Baca:
Sabtu, 2 Jun 2018 05:05:05 WIB

Kriminologi.id - Salah satu penyebab remaja putri asal Blitar berinisial EPA nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kamar kosnya ialah karena merasa takut tidak bisa diterima masuk di salah satu SMA favorit di kota Blitar. 

Rasa takut pelajar berusia 15 tahun tersebut diakibatkan karena terbentur adanya sistem zonasi yang diberlakukan Pemerintah Pusat.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menuturkan sikap menyalahkan kebijakan sistem zonasi dalam kasus kematian EPA bukanlah merupakan sebuah tindakan yang bijak. 

"Meski sistem zonasi ini secara praktik di berbagai daerah masih menimbulkan banyak masalah dan perlu dikritisi, namun sistem zonasi yang ditetapkan pemerintah sesungguhnya memiliki tujuan yang baik, yaitu perlahan justru hendak menghapus sekolah unggul dan sekolah favorit," ujar Retno dalam keterangannya, Jumat, 1 Juni 2018.

Hal yang perlu didorong kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, menurut dia, adalah untuk memenuhi delapan standar nasional pendidikan (SNP). Terutama standar sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh Indonesia.

"Selanjutnya adalah standar pendidik dan tenaga kependidikan yang berkualitas dan merata di seluruh Indonesia. Sehingga seluruh sekolah memiliki kualitas yang sama dan tidak perlu ada yang dilabeli sebagai sekolah unggulan atau sekolah favorit lagi," ujar Retno.

Ilustrasi gantung diri. Foto: Ist/Kriminologi.id
Ilustrasi gantung diri. Foto: Ist/Kriminologi.id

Apabila kualitas sarana prasarana dan kualitas pendidik di kabupaten Blitar sama dengan di Kota Blitar, ia menambahkan, maka pastilah EPA tidak perlu takut jika tidak diterima di SMAN kota Blitar.

Sebab, ia mengatakan, ada kesempatan bagi EPA untuk diterima di SMAN di kabupaten Blitar yang memiliki kualitas yang sama dengan SMAN di kota Blitar.   

"Ini momentum yang seharusnya menjadi dorongan bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk terus berupaya memenuhi delapan standar nasional pendidikan nasional merata di seluruh Indonesia," kata Retno. 

Sistem zonasi penerimaan peserta didik baru, ia menyampaikan, sejatinya memang ingin mendekatkan anak dengan tempat tinggalnya dan lingkungan bermainnya. Hal itu, bertujuan untuk mengurangi kekerasan dan tawuran karena teman sekolahnya juga teman bermainnya di rumah.

"Di samping itu, sistem zonasi juga dapat mengurangi polusi udara dan biaya transportasi harian, karena siswa cukup jalan kaki atau naik sepeda dari dan ke sekolah," ujar Retno.

Kasus meninggalnya dua remaja di Blitar dalam waktu yang berdekatan mengejutkan banyak pihak. Kasus pertama adalah meninggalnya siswi SMP yang bernama EPA (16 tahun) akibat gantung diri di kamar kosnya. Diduga EPA bunuh diri karena takut tidak bisa diterima masuk di salah satu SMA favorit di kota Blitar, karena terbentur sistem zonasi.

Dua hari setelah kematian EPA, warga Blitar dikejutkan kembali dengan berita kematian BI yang merupakan pelajar yang baru dinyatakan lulus dari SMP di Kabupaten Blitar. 

Warga Kecamatan Kanigoro itu nekat mengakhiri hidup dengan gantung diri. Pelajar 15 tahun itu ditemukan tewas tergantung pada seutas tali tambang di kamarnya. Motif bunuh diri diduga karena ingin dibelikan motor. 

KOMENTAR
500/500