Kebakaran yang menghanguskan enam warung makan di Jalan Kemang Utara IX, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu, 19 Mei 2018 merenggut korban jiwa. Foto: Erwin Maulana/Kriminologi.id

Cerita Wahyu, Bocah Korban Kebakaran Kemang yang Gemar Bersepeda

Estimasi Baca:
Selasa, 22 Mei 2018 00:30:58 WIB

Kriminologi.id - Wahyu, korban tewas kebakaran hebat di kawasan pemukiman di Kemang Utara, Jakarta Selatan dikenal sebagai sosok yang disayang keluarga. Terutama sang ayah, Haryono yang begitu menyayangi Wahyu. 

Kriminologi.id mendatangi keluarga Haryono yang untuk sementara ini ditampung di rumah kost milik Ade Fauziah yang terletak di Gang haji Abdul Wahab, RT 02/05, Kelurahan Duren Tiga.

Rumah kediaman keluarga Haryono yang juga dijadikan tempat usaha rumah makan padang tersebut terletak persis di pinggir Jalan Kemang Utara 9, di sebelah akses masuk Gang Abdul Wahab.

Sementara itu, rumah kost milik Ade Fauziah terletak beberapa puluh meter di area belakang dari rumah kediaman keluarga Haryono.

Tiba di depan rumah kost Ade Fauziah, Kriminologi bertemu dengan Medi, anak keempat Haryono. Medi menceritakan sosok Wahyu.

Sementara itu, pria yang oleh warga sekitar biasa dipanggil Uda Edi tersebut menjelaskan bahwa hingga saat ini ayahnya, Haryono masih shock atas kepergian Wahyu.

"Bapak sama ibu mulai usaha rumah makan sejak lama, 1985. Dulu tempatnya pindah-pindah. Mulai menetap lama ya pas disini. Tapi tahun 2015 ibu meninggal. Jadi tinggal bapak sama anak-anaknya. Semuanya 9 bersaudara, yang tinggal di Pariaman abang saya 2 orang, sisanya 7 tinggal disini," ujar Medi.

Medi menambahkan, dalam kesehariannya, Wahyu biasanya tidur di lantai bawah bersama ayahnya, Haryono, kakak ketiganya, Riki, serta adiknya, Ridho. Sementara itu, lantai atas biasa diisi oleh empat adik kandungnya, Nova, Puteri, Rini, dan Wahyu.

Medi menambahkan, dari semua saudara kandungnya, Riki dan Wahyu sudah mengalami disabilitas sejak mereka lahir.

"Kalau abang Riki dan Wahyu itu sama-sama engga bisa ngomong, dari lahir sudah begitu. Tapi, dibanding abang Riki, Wahyu enggak terlalu parah. Kalau abang Riki badannya kurus kecil banget, tulang tangannya juga beda. Kalau Wahyu ya sama kayak anak-anak lainnya," ujar Medi.

Terkait sosok Wahyu, Medi menceritakan bahwa adiknya itu merupakan anak yang disayang oleh keluarganya, terutama sang ayah, Haryono. Meskipun berstatus disabilitas, Wahyu tak jarang turut meringankan beban ayahnya.

"Dia itu adik kesayangan bapak. Sekalipun enggak sekolah karena ngomongnya gitu (disabilitas), dia sering bantu-bantu bapak. Kalau bapak sama saya lagi masak, dia sering bantu angkut-angkut bahan masakan, ngambil pesanan belanja di warungnya ibu Sani yang di belakang rumah. Dia itu lucu, kalau makan paling banyak," ingat Medi akan sang adik.

Medi melanjutkan, dalam kesehariannya, Wahyu memiliki cukup banyak teman. Dibanding kakaknya, Riki yang juga mengalami disabilitas, Wahyu memiliki cukup banyak teman.

"Temannya Wahyu banyak sekitar sini, kebanyakan tetangga. Kalau abang Riki, dia itu kan selain enggak bisa ngomong. jalannya pun agak susah. Sehari-hari cuma mondar-mandir dari rumah ke belakang gang Haji Wahab, balik lagi ke rumah. Kalau Wahyu, kadang dia main sama temen-temennya, kadang main sampe ke gang Haji Ibrahim sana,"Ujar Medi sembari menunjuk ke arah gang Haji Ibrahim yang terletak di sisi barat rumah makan padangnya.

Selain itu, Medi kembali menceritakan, Wahyu merupakan anak yang senang bersepeda dengan teman-temannya.

"Wahyu paling asyik kaluo lagi main sepeda, yang BMX punya dia itu sering dipakai sama temen-temennya. Kalau main sama temen-temennya ke gang Haji Ibrahim itu ya sepedaan sampe sore," cerita Medi.

"Sepedanya awet, dia rawat engga pernah dipake sembarangan, dia cuci sendiri kalau kotor. Tapi kami juga sering bilang ke Wahyu jangan main terlalu jauh, kasihan, takutnya dia lupa arahnya pulang itu kemana," imbuh Medi.

Medi melanjutkan, pernah sekali Wahyu hampir lupa kemana arah jalan pulang ke rumah. Medi dan Haryono saat itu harus mencari-cari Wahyu hingga hampir menjelang petang. Beruntung, mereka menemukan Wahyu kala itu dengan sepedanya di dekat area proyek Nine Residence, Kemang.

Sementara itu, Toni Hismanto selaku ketua RT 02 juga menceritakan, Wahyu merupakan anak yang murah senyum setiap kali bertemu dengannya.

"Wah sekalipuan Wahyu susah ngomong (disabilitas) dia itu gampang senyum. Tiap ketemu saya, ketemu mas Wono (Yuwono) yang tetangga belakangnya dia pasti senyum. Kesehariannya itu ya hobi banget main sepeda, apalagi kalau sore-sore lagi rame itu biasanya dia sepedaan," ujar Toni.

Senada dengan yang disampaikan oleh Toni, Yuwono yang merupakan tetangga belakang rumahnya juga kerap turut merasakan keramahan Wahyu.

"Wah dia itu anaknya tiap hari seneng terus, senyum terus. Dia itu emang engga sekolah, tapi dia juga rajin, bantu-bantu Uda (Haryono) kalau lagi masak atau disuruh ngambil pesenan belanja ke warungnya mpok Sani, warungnya kan sebelah rumah saya, itu dia nurut bener-bener ngebantu si Uda, makanya dia aedih pas Wahyu engga selamet," ingat Yuwono.

Kini, sosok Wahyu hanya tinggal kenangan. Keluarga Haryono dan warga sekitar RT 02 Kelurahan Duren Tiga tidak akan lagi melihat sosok Wahyu yang kerap bersepada di sekitar rumah kediamannya.

Hingga kini, sang ayah, Haryono, masih terpukul atas kepergian anaknya tersebut.
 

Reporter: Erwin Maulana
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500