Gedung Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Foto: Yenny Hardiyanti/Kriminologi.id

Dampingi Pelaku Terorisme, KPAI Pastikan Anak Bebas dari Radikalisme

Estimasi Baca:
Rabu, 16 Mei 2018 20:30:49 WIB

Kriminologi.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) siap mendampingi anak pelaku aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo. Pendampingan itu dilakukan mulai dari mendampingi sisi psikologis, sosial, hingga pendekatan agama. Proses ini akan pihaknya lakukan hingga anak tersebut berusia dewasa. 

"Kami akan mendampingi anak-anak ini untuk menghilangkan traumatis dan doktrin ajaran salah, yang salam ini mereka terima dari orang tuanya," kata Susanto seusai mengunjungi anak-anak dari pelaku bom di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jawa Timur, Rabu, 16 Mei 2018. 

Susanto menjelaskan, selama ini para anak tersebut mendapatkan doktrin terkait ajaran radikalisme dari orangtuanya. Bahkan, Susanto melanjutkan, anak-anak diberikan tontontan berupa video yang memperlihatkan aksi-aksi radikalisme.

"Saat ini, tren infiltrasi radikalisme sudah bergeser dari pola tradisional ke pola baru. Bila sebelumnya radikalisme dilakukan melalui guru atau teman sebaya, saat ini polanya berubah menjadi pola pengasuhan," kata Susanto.

Menyusupi paham radikalisme seperti ini, Susanto menegaskan merupakan kejahatan serius. Menurutnya, dalam pengasuhan anak, orang tua tidak boleh memberikan muatan radikalisme.

"Orangtua seharusnya menjadi pelindung utama," kata Susanto.

Pihaknya meminta, penanganan kasus kepada anak-anak pelaku itu harus dilakukan secara komperehensif dan dipastikan rehabilitasinya.

"Anak ini membutuhkan rehabilitasi yang tuntas, baik dari sisi sosial, psikologi, bahkan pendekatan agama, supaya anak kembali memiliki pemahaman yang umum," ujar Susanto.

Untuk melakukan proses pendampingan ini, Susanto mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Jawa Timur terkait perawatan anak-anak tersebut.

"Dalam kesepahaman proses pengasuhan mereka dibutuhkan suatu asesmen. Nantinya, yang mengasuh anak-anak ini kami pastikan berasal dari keluarga yang tidak memiliki pemikiran radikal," katanya. AS

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500