Ilustrasi PRT bunuh anak. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Deretan Motif PRT Aniaya Anak Majikan

Estimasi Baca:
Senin, 6 Ags 2018 08:05:28 WIB

Kriminologi.id - Kasus penganiayaan yang dilakukan pekerja rumah tangga atau PRT kembali terjadi. Kasus terbaru menimpa seorang balita di Kabupaten Serang beberapa waktu lalu. Mirisnya, penganiayaan tersebut harus berujung pada kematian sang balita.

Selasa, 31 Juli 2018, Ratifah Rafsani Ahmad (3) ditemukan tewas mengenaskan di dalam kamar mandi rumahnya, di Perum Griya Asri Cluster Mahoni B14 No. 30, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang. Bocah kecil itu meninggal dunia karena dianiaya Sani (29) yang merupakan PRT di rumah tersebut.

Adapun motif Sari tega melakukan perbuatan keji, lantaran emosi melihat anak majikannya rewel dan tidak bisa tidur. Tidak hanya itu, motif lainnya adalah karena dendam terhadap majikan yang melarangnya berpacaran. Larangan itu membuat Sani sakit hati.

Kasus penganiyaan anak majikan yang dilakukan PRT sudah berulang kali terjadi. Telah banyak kasus penganiayaan yang terjadi dengan berbagai macam motif.

Berdasarkan penelusuran, berikut Kriminologi.id rangkum empat motif penganiayaan PRT terhadap anak majikannya.

1. Dendam karena Diperkosa Kakak Majikan

Rabu, 22 Maret 2015, seorang PRT di Medan tega membunuh anak majikannya sendiri yang masih berusia dua tahun lantaran teringat memori kelam yang pernah dialaminya. Kimeria Waruwu alias Ria (18) membunuh Keiza Natani Elya Simanjuntak (2) lantaran teringat pernah diperkosa keluarga korban.

Kepada polisi, Ria menceritakan bagaimana kronologi kejadian hingga akhirnya ia tega membunuh korban. Ria mengaku saat melihat korban bermain di tempat tidur, tiba-tiba terbesit ingatan buruk masa lalunya yang pernah diperkosa kakak dari ibu korban. 

Dari ingatan itulah timbul niatan untuk menghabisi korban. Dengan bermodalkan sarung dan selimut di tempat tidur korban, Ria akhirnya membekap mulut dan wajah korban hingga korban tidak bisa bernafas. Setelah melakukan perlawanan beberapa menit, akhirnya korban mulai berhenti melawan dan meninggal dunia.

2. Motif Cemburu

Yuniarti (43) tega menghabisi nyawa Bastian Emeraldi (2), yang merupakan anak dari majikannya sendiri lantaran cemburu. Yuniarti tega melakukan perbuatan kejia itu karena mencurigai suaminya, Adi Suryanto (40), selingkuh dengan majikannya sendiri, Gadis Jullianti Permatasari (22).

Rasa cemburu yang dirasakan Yuniarti pun semakin memuncak ketika mengetahui suaminya sering kali mengantar jemput Gadis yang diketahui berstatus janda. Suami Yuniarti sendiri diketahui bekerja sebagai sopir ojek online. Yuniarti pun melampiaskan kekesalannya kepada korban.

Dari hasil penyelidikan, sebelum tewas, korban sempat mengalami penyiksaan yang cukup berat untuk anak seusianya. Yuniarti menghukumnya dengan cara berdiri dari sore hingga malam hari. Saat korban terjatuh, Yuniarti justru menarik leher dan mengguncang-guncangkan tubuh mungil korban hingga muntah.

Korban mengalami muntah-muntah hingga tak sadarkan diri saat hendak tidur malam. Saat itulah Yuniarti panik dan meminta bantuan tetangga untuk membawa korban ke puskesmas di kawasan Cilangkap, Kecamatan Tapos, Depok, Jawa Barat, tak jauh dari rumahnya, Selasa malam, 22 November 2016.

Namun nahas, nyawa korban tak tertolong. Diduga korban tewas akibat kekerasan fisik yang ditandai dengan adanya sejumlah luka di bagian kepada, wajah dan paha.

3. Kesal Lantaran Anak Sering Menangis dan Rewel

Septia Mega Mustika (24), seorang PRT di Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, ditangkap polisi karena menyiksa H, anak yang diasuhnya. Bahkan, ia telah menganiaya anak majikannya yang baru berusai dua tahun itu berulang kali. Puncaknya adalah penganiayaan yang mengakibatkan anak majikannya mengalami patah tulang.

Septia diketahui mulai bekerja sebagai PRT di rumah majikannya sejak Desember 2016. Namun, sejak Februari 2017, Septia sering kali melakukan kekerasan terhadap anak majikannya saat tidak ada orang di rumah. Adapun motifnya adalah merasa kesal lantaran korban sering menangis dan rewel.

Puncaknya, pada 18 April 2017, Septia memukul korban menggunakan sebuah mainan gamelan berbahan kayu dan besi. Akibatnya, bocah berusia dua tahun itu mengalami patah tulang selangka kiri.

Kepada polisi, Septia juga mengaku pernah menganiaya korban dengan cara menyentil hidung korban hingga berdarah, dan mencolok mata korban. Saat majikannya bertanya mengenai kondisi korban, ia selalu berdalih luka di tubuh korban karena jatuh atau terjepit pintu.

4. Kesal Karena Tasnya Dibawa Anak Majikan

Liani alias Yani (17) mengaku tega menganiaya balita bernama Diva Putri Andriyani (3) hingga tewas karena kesal. Ia kesal kepada anak majikan karena membawa tas milik suaminya yang berisi Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) motor.

Kepada polisi, Yani mengatakan, korban bandel dan sering melawan jika diperingati. Oleh karena itu, ia kerap menganiaya korban dengan cara mencubit, menggigit hingga membenturkan kepala korban ke dinding.

Puncaknya, pada saat sebelum kejadian, korban keluar rumah untuk bermain di rumah tetangganya dan membawa tas milik suami pelaku. Tas tersebut berisikan STNK motor yang diperlukan. Mengetahui hal tersebut, Yani kemudian geram dan menganiaya korban hingga tewas.

Dari hasil autopsi pada jenazah korban, ditemukan luka menyerupai gigitan pada dada dan punggung. Juga ditemukan luka memar dan bengkak pada kepala, pipi dan punggung dan juga lecet yang telah mengalami penyembuhan pada kepala, wajah, punggung, dada, perut dan keempat anggota gerak. (Rizqi Ghiffari)

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500