Gedung Apartemen Kalibata City. Foto: Rizky Aditya/Kriminologi.id

Gaya Hidup dan Pola Asuh Pemicu Anak Masuk Bisnis Prostitusi

Estimasi Baca:
Jumat, 10 Ags 2018 16:10:13 WIB

Kriminologi.id - Prostitusi yang melibatkan anak-anak kembali terbongkar di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Sejumlah faktor seperti ekonomi, gaya hidup dan pola asuh dinilai menjadi pemicu anak-anak tersebut masuk ke dunia prostitusi.

Banyak faktor yang dinilai memicu terjadinya eksploitasi seksual komersial anak tersebut. End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking of Children For Sexual Purposes (ECPAT) menyatakan, faktor tersebut di antaranya ekonomi dan pola asuh keluarga.

“Banyak faktor ada karena ekonomi, butuh uang memungkinkan mereka masuk ke dunia itu. Ada juga karena mereka tidak mendapatkan pola asuh yang baik,” ujar Andy Ardian, program manager ECPAT Indonesia, kepada Kriminologi.id melalui sambungan telepon, Jumat, 10 Agustus 2018.

Menurut Andy, akibat pola asuh yang kurang baik di dalam keluarga, anak-anak yang menjadi korban eksploitasi seksual komersial tersebut mencari ruang agar dihargai oleh lingkungan.

“Sehingga mereka mencari kebutuhannya untuk dihargai mengekspresikan diri. Selain itu juga keterlibatan sekeliling. Kalau misalnya anak-anak yang sering main dengan teman-teman yang seperti itu maka informasi-informasi yang menurut informasi itu benar, kemudian diikuti,” ujar Andy.

Andy menjelaskan, banyak informasi yang tidak layak dihadirkan kepada anak yang bisa juga memicu kedewasaan anak lebih awal. 

“Bahwa orang-orang yang ingin meng-abuse kemudian membiarkan ini terjadi,” ujar Andy.

Sementara itu Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, menuturkan faktor ekonomi yang menjadi salah satu pemicu. Selain itu Arist juga menyebut faktor gaya hidup juga dapat mempengaruhi.

“Gaya hidup karena dipengaruhi media sosial, bukan hanya untuk anak-anak, orang dewasa juga menjadi candu. Kita tidak bisa kita katakan apa yang mereka lakukan dengan kesadaran mereka sebagai anak-anak. Sekalipun anak itu membutuhkan itu, jadi anak sebagai korban,” ujar Arist.

Arist menambahkan, solusi untuk mengatasi faktor kemiskinan adalah keluarga harus diberdayakan, karena menurutnya keluarga itu menjadi lemah sehingga pengawasan terhadap anak berkurang.

“Faktor ekonomi, gaya hidup candu media sekarang, pemberdayaan rumah sebagai benteng harus dilakukan siapa yang melakukan itu, pemerintah. Itu belum ada pemberdayaan rumah karena bobol semua bayangkan anak-anak bisa menginap di apartemen, dieksplotasi tidak dicari orang tua, seolah pembenaran terhadap kemiskinan, nggak bisa kemisikinan harus diatasi, jangan anak yang dikorbankan,” kata Arist.

Sementara itu Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Trafficking dan Eksploitasi, Ai Maryati Solihah, menyatakan berdasarkan beberapa interview terhadap korban eksploitasi seksual komersial anak, beberapa faktor di antaranya hedonisme.

Menurut Ai tidak selalu latar belakang mereka terkait ekonomi. Bahkan menurut Ai mereka punya materi sendiri. Mereka mulai tergantung dengan pola hidup tertentu, dimana secara ekonomi mereka mendapat tambahan uang, pergaulan yang hedonis, dan foya-foya. 

“Dari sejumlah interview yang dilakukan, saya interview yang di Surabaya, kehidupan secara ekonomi tidak kurang. Ada pula karena pola hidup sudah berubah terkait perawatan tubuh. Seharuanya orang tuanya peka. Terus ada lagi mereka korban perceraian,” ujar Ai. AS

Reporter: Achmad Sakirin
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500