Ilustrasi hukuman anak. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Hukuman Siswa SD Tusuk Teman Sebangku di Garut Tergantung Alasannya

Estimasi Baca:
Kamis, 26 Jul 2018 18:45:23 WIB

Kriminologi.id - Siswa Sekolah Dasar atau SD di Garut, Jawa Barat berinisial HK (12) yang menusuk teman sebangkunya hingga tewas akan mendapat pendampingan dari psikolog. 

Polisi menetapkan hukuman pidana atau tidak pada siswa SD itu tergantung dari alasan bocah itu melakukan penusukan, kata Direskrimum Polda Jabar Komisaris Besar Pol Umar Surya Fana.

"Jadi dalam penyelidikan oleh kami, nanti psikolog yang bertanya kepada si anak, misalnya kenapa adik menusuk dengan gunting, kalau jawabannnya karena lihat di TV, hilang pidananya. Bahkan, jika ditanya kenapa sebabnya menusuk karena kesal dan ingin melukai teman, itu pun bisa hilang unsurnya dalam pidana. Hal ini yang masih didalami, apakah si anak bisa menerima secara formal tentang kejadian ini," ujar Kombes Pol Umar Surya Fana, Kamis, 26 Juli 2018. 

HK (12) tewas tertusuk gunting oleh FN teman sebangkunya yang berkelahi karena persoalan buku. 

Umar menyebutkan pihaknya telah menyiapkan psikolog yang mendampingi pemeriksaan FN. Pendampingan psikolog ini untuk menjaga kondisi psikologi sang anak.

"Kasus di Garut ini kan melibatkan anak, kami sudah menyiapkan psikolog dan itu wajib didampingi," kata Umar.

Menurut Umar, kasus yang melibatkan siswa HK tersebut sudah masuk dalam kategori Anak Berhadapan dengan Hukum atau ABH. Dengan demikian, anak ini diposisikan sebagai korban, saksi dan juga pelaku. 

"Anak ini kan dalam kasus di Garut sudah masuk kategori ABH (Anak Berhadapan dengan Hukum), nah si anak harus diposisikan sebagai korban, saksi, dan pelaku," kata Umar menjelaskan.

Pelibatan psikolog dalam memeriksa HK, menurut Umar, pihaknya lakukan untuk masa depannya. Sebab, kata Umar, pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan oleh psikolog akan menentukan langkah apa yang akan pihaknya ambil.

Keterangan psikolog ini juga nantinya akan menentukan status hukum sang anak yang belum mengerti apakah  diputuskan bersalah atau bebas dari hukuman. 

Umar menambahkan, untuk menangani kasus anak ini, pihaknya bekerja sama dengan beberapa elemen, di antaranya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dinas Sosial, pegiat anti kekerasan anak, dan Lembaga Swadaya Masyarakat. 

"Nanti kita putuskan bagaimana hasil analisa dan pemeriksaan oleh psikolog terhadap pelaku F yang melakukan penganiayaan berat kepada rekannya H sabtu lalu," kata Umar.

Sebelumnya diberitakan, perkelahian siswa SD di Garut menyebabkan FN (12) tewas tertusuk gunting oleh HK (12) teman sebangku.  FN (12) kehilangan satu buku pelajarannya di kelas, Jumat, 20 Juli 2018.

Keesokan harinya, FN menuduh bahwa HK (12) teman sebangkunya menyembunyikan buku tersebut sebab bukunya ada di bawah meja. 

Keduanya berkelahi seusai pulang sekolah dan melintas di Kampung Babakan Cikandang. Merasa tersudut, HK kemudian mengambil gunting di tasnya dan berusaha membela diri.

Dengan menggunakan gunting yang ia pakai saat mengikuti pelajaran kesenian, ia melukai kepala dan punggung FN. 

Perkelahian itu pun sempat dilerai warga. Namun, FN sudah berlumuran darah, ia kemudian dilarikan ke Puskesmas Pembantu Cikajang, dan dirujuk ke Rumah Sakit Garut.

Meski sempat membaik dan kembali ke rumah, namun nyawa FN tidak terselamatkan saat ia kondisi tubuhnya menurun dan mendapat perawatan di klinik Cikajang pada Minggu, 22 Juli 2018 siang. YH

Reporter: Arief Pratama
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500