Kapolres Karawang AKBP Hendy F Kurniawan (kiri). Foto: Ist/Tribratanews

Ibu Bayi Calista Tak Dipidana, LPAI Sangsi Timbulkan Efek Jera

Estimasi Baca:
Senin, 26 Mar 2018 12:45:38 WIB
Kapolres Karawang AKBP Hendy F Kurniawan membuat terobosan hukum dengan menyelesaikan kasus meninggalnya bayi Calista di luar pengadilan. Meski sang ibu sudah tersangka, LPAI raguk langkah itu memberikan efek jera.

Kriminologi.id - Calista, bayi yang berumur satu tahun tiga bulan akhirnya meninggal dunia. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Calista sempat dirawat di RSUD Karawang dalam keadaan koma selama 15 hari. Kondisi yang dialami bayi Calista itu diduga kuat karena dianiaya ibu kandungnya.

Polres Karawang telah menetapkan ibu bayi Calista, Sinta sebagai tersangka. Namun, status tersebut tak membuatnya diproses secara hukum. Melainkan penanganannya dilakukan di luar pengadilan.

Kapolres Karawang  AKBP Hendy F Kurniawan mengaku memiliki beberapa alasan pihaknya mengambil langkah tersebut. Yakni latar belakang kehidupan Sinta yang terbilang menyedihkan. 

Sinta disebut telah membina rumah tangga sebanyak dua kali dan kerap gagal. Belum lagi lilitan ekonomi yang kerap mengganggu kehidupannya. 

Ditambah dengan kondisi psikis atau kejiwaannya usai bayinya Calista meninggal dunia. "Sehingga membutuhkan penanganan yang bijak. Harus ada kebijakan hukum yang melahirkan kehidupan. Proses hukum tentunya harus melihat keseluruhan aspek tersebut," kata Hendy, Minggu, 25 Maret 2018.

Terkait hal itu, ia menambahkan, pihaknya telah berkomunikasi dengan Kejaksaan Negeri Karawang dan Pemerintah Kabupaten Karawang.

Bagi Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri, terobosan hukum yang dilakukan Polres Karawang merupakan sisi humanis Kapolres Karawang. Hal itu juga merupakan paras modern Polri dewasa ini. 
 
"Langkah hukum atas Sinta, ibu kandung Calista, sepatutnya dapat memunculkan dua ragam efek jera," katanya dalam keterangan tertulisnya kepada Kriminologi.id, Senin, 26 Maret 2018.

Efek jera langsung, menurut dia, adalah agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya. Sementara Efek jera tak langsung, tepatnya disebut efek tangkal, adalah agar masyarakat tidak meniru perbuatan pelaku. 

"Dalam konteks ini, LPAI sangsi bahwa penanganan di luar jalur pengadilan atas Sinta akan dapat memenuhi efek jera sekaligus efek tangkal tersebut," ujar Reza.

Ia menilai, menjadikan kesulitan ekonomi sebagai faktor penggugur proses pidana atas diri pelaku berisiko disalahartikan masyarakat. Sebab hal itu dapat dinilai dispensasi hukum seolah berlaku bagi masyarakat tertentu. 

Dalam nalar kejahatan sebagai solusi, ia menambahkan, sangat sulit dipahami kesulitan ekonomi justru tidak berlanjut dengan kejahatan ekonomi sebagai 'jalan keluar' atas masalah hidup pelaku tersebut. 

"Kesulitan ekonomi yang dikompensasi dengan tindakan penganiayaan bayi merupakan bentuk perendahan harkat kemuliaan manusia oleh orang yang dianggap sebagai figur terdekat atas darah dagingnya sendiri," kata Reza menegaskan. 

Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500