Komariah (kiri) ibunda Muhammad Rizky Saputra, anak yang tewas dalam pembagian sembako di silang Monas, Jakarta Pusat. Foto: Walda Marison/Kriminologi.id

Ibunda Bocah Tewas di Monas Ngaku Kerap Didatangi Anaknya Lewat Mimpi

Estimasi Baca:
Rabu, 2 Mei 2018 19:15:18 WIB
Ibunda salah satu dari dua anak korban tewas di Monas, Jakarta, bernama Komariyah mengaku kerap didatngi anaknya dalam mimpi.

Kriminologi.id - Ibunda salah satu dari dua anak korban tewas saat acara bagi-bagi sembako di silang Monumen Nasional atau Monas, Jakarta, bernama Komariyah (49) enggan diwawancara awak media. Sebab, setelah diwawancara biasanya Komariyah didatangi almarhum anaknya Muhammad Rizky Saputra (11) melalui mimpi. 

“Setiap ibu ditanya tentang anaknya oleh awak media, malamnya suka di datangi lewat mimpi. Makanya dia enggan buat bicara banyak di media,” kata Kuasa Hukum Komariyah, Muhammad Fayyad, 
di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Pusat, Rabu, 2 Mei 2018.

Menurut Fayyad, kepergian Rizky begitu memukul batin Komariyah. Pasalnya, beberapa bulan lalu Komariyah baru saja ditinggal oleh suaminya yang pergi menghadap maha kuasa. Di antara ketiga anak Komariyah, korban Rizky merupakan yang paling dekat dengan ibunya. 

"Dia kan anak berkebutuhan khusus. Jadi setiap hari memang selalu bersama ibunya karena harus diawasi," katanya. 

Fayyad berharap polisi bisa bertindak seadil-adilnya untuk mengusut kasus tewasnya Rizky akibat acara pembagian sembako di Monas yang terjadi pada Sabtu, 28 April 2018. Pihak keluarga korban pun telah melaporkan Dave Refano Santoso dari Forum Untuk Indonesia sekaligus ketua panitia penyelenggara acara bagi-bagi sembako di Silang Monas, Jakarta. 

"Kami jerat dengan Pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan kematian, " katanya.

Tidak hanya melaporkan Dave ke polisi, Fayyad juga menuding panitia penyelenggara tidak memiliki izin dari Pemprov DKI Jakarta terkait acara bagi-bagi sembako. Saat izin kepada Pemporv DKI, kata Fayyad, pihak penyelenggara mengaku acara yang digelarnya yakni untuk menyambut hari tari sedunia. 

"Pihak Dinas dari awal tidak akan mengijinkan jika ada acara bagi bagi sembako di monas," tuturnya.

Muhammad Fayyad resmi memubuat laporan ke Mabes Polri dengan nomor laporan LP/578/V/2018 Bareskrim. Muhammad Fayyad juga membawa beberapa barang bukti berupa surat kematian dari Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan dan surat kematian dari pihak kelurahan tempat keluarga Rizki tinggal. 

"Kami mengecam dan menuntut pihak Dave sebagai penyelenggara acara dengan Pasal 359 KUHP dengan ancaman maksimal lima tahun kurungan penjara," tuturnya. TD

Reporter: Walda Marison
Penulis: Tito Dirhantoro
KOMENTAR
500/500