Polda Metro Jaya melakukan konferensi pers terkait kasus grup pendistribusi video pornografi anak secara online, Senin (25/06/2018). Foto: Dimeitri Marilyn/Kriminologi.id

Ini Peran 3 Eks Anggota Loly Candy di Komunitas Pedofil Internasional

Estimasi Baca:
Senin, 25 Jun 2018 20:55:52 WIB

Kriminologi.id - Tim Subdit Direskrimsus Polda Metro Jaya mengungkap penyebaran produsen film pornografi anak-anak melalui media sosial dan grup percakapan telepon seluler Official Loly Candy, sebuah komunitas jaringan pedofilia atau penyuka seks terhadap anak-anak di bawah umur.

Dalam pengungkapan kasus ini, Polda Metro Jaya menangkap sebanyak tiga pelaku yang merupakan bekas anggota Loly Candy. Ketiga pelaku tersebut masing-masing berinisial WR (19), AD (33), dan IW (26), yang dalam penyebaran video prono anak memiliki peran berbeda-beda. 

“Para tersangka diduga menyebarkan konten pornografi melalui media sosial kepada anggotanya yang tersebar di 63 negara,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Pol Argo Yuwono di Jakarta, Senin, 25 Juni 2018.

Argo mengungkapkan, tersangka WR berperan menggunakan akun Facebook bernama williamfernando886 untuk bergabung dengan grup Official Loly Candy sejak 2016. WR kemudian keluar dari grup itu setelah mengetahui adminnya ditangkap polisi karena menyebarkan konten pornografi untuk kepuasan seksual.

Selanjutnya, tersangka AD bertugas memposting video porno anak menggunakan akun Facebook Shintia Sartika Putri dengan motif untuk kepuasan seksual pribadi. Adapun tersangka IW memposting melalui grup Facebook bernama akun citralestari.lestari dan grup Whatsapp lolycandy.

Selain peranannya, Argo menambahkan ketiga pelaku juga ditangkap di wilayah berbeda. Tersangka WR ditangkap di Tangerang Banten, AD diringkus di Palembang Sumatera Selatan, dan IW dibekuk di Matraman, Jakarta Timur.

Sebelum menangkap ketiganya, Argo menjelaskan, awalnya anggota Subdirektorat Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengungkap akun Facebook Official Loly Candy yang diduga mendistribusikan konten pornografi anak secara online pada 2017.

Penyidik kemudian mengembangkan jaringan penyebar dokumen pornografi anak itu yang diketahui memproduksi dan mendistribusikan melalui aplikasi percakapan Whatsapp dan Telegram dengan total 40 grup. Dari setiap grup itu, memiliki 200 anggota yang berasal dari 63 negara.

Anggota Polda Metro Jaya meminta bantuan kepada Federal Bureau of Investigation atau FBI guna berkoordinasi mengidentifikasi para pelaku di negaranya dengan bantuan Facebook dan Whatsapp.

Dari hasil koordinasi itu, Argo menuturkan, aparat kepolisian antarnegara menggelar operasi serentak pada 23 negara yang berhasil terungkap antara lain di El Salvador, Chili, Guatemala dengan 13 tersangka yang ditangkap berdasarkan pengembangan kasus di Polda Metro Jaya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 27 ayat 1 juncto Pasal 45 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Eletronik atau ITE.

Kemudian dan atau Pasal 4 ayat 1 juncto Pasal 29 dan atau Pasal 4 ayat 2 juncto Pasal 30 UU RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan atau Pasal 76D juncto Pasal 81 atau Pasal 76E juncto Pasal 82 dan atau Pasal 76I juncto Pasal 88 UU RI Nomor 3 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman penjara paling lama 15 tahun dan denda maksimal Rp 5 miliar.

Penulis: Tito Dirhantoro
Multimedia: S. Dwiangga Perwira
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500