Keluarga korban malapraktik di PN Tangerang. (11/7/2018). Foto: Walda Marison/Kriminologi.id

Juliana Sebut Inkubator RS Omni Sebabkan Syaraf Retina Anaknya Lepas

Estimasi Baca:
Rabu, 11 Jul 2018 19:25:32 WIB

Kriminologi.id - Sidang perdata dugaan malapraktik terhadap anak kembar yang dilakukan dokter Ferdy Limawal di RS Omni Alam Sutera sekitar 10 tahun silam digelar di PN Tangerang, Serpong, Banten, Rabu, 11 Juli 2018. Juliana Dharmadi, ibu dari Jared Christophel dan Jayden Christophel (10) mengungkap, pihaknya menggugat pihak RS Omni karena terjadi kerusakan pada syaraf retina anaknya.

"Karena waktu dilahirkan prosesnya (Jared Christophel dan Jayden Christophel) sebagai sepasang bayi kembar identik mereka sehat dan tidak ada indikasi cacat dari dalam kandungan saya. Nah, cacat kebutaan itu terjadi karena lepasnya syaraf retina akibat perawatan selama inkubator di mana pemakaian oksigen di inkubator sangat tinggi," kata Juliana, di PN Tangerang, pada Rabu, 11 Juli 2018.

Tingginya pemasangan di inkubator pada bayi kembarnya tersebut, menurut Juliana, merupakan tanggung jawab dokter Ferdi Limawal yang ketika itu bekerja di RS Omni Alam Sutera.

Juliana melanjutkan, saat persalinan di RS Omni Alam Sutera pada 2008, pihaknya harus membayar uang sebesar Rp 250 juta.

"Hampir 250-an (juta) waktu tahun 2008, dan itu yang saya bayar harga ICU, dari lahir sampai pulang, itu harga MICU, Micu taukan? ICU anak. Saya menunjukkan kepada Omni bahwa saya sebagai orang tua itu mampu membayar," katanya.

Pada persidangan hari ini, kata Juliana, pihaknya mengajukan gugatan baik kepada Ferdy Limawal selaku dokter yang menangani kedua anak kembarnya itu, dan kepada RS Omni Alam Sutera.

"Jadi saya menggugat dua hal, satu kepada RS Omni sebagai institusi karena saya membayar biaya kesehatan itu kepada Omni, dan saya menggugat dokter Ferdi sebagai tenaga praktisi sendiri," katanya 

Juliana mengatakana saat persalinan di RS Omni pada 2008, ia harus membayar uang sebesar 250 juta rupiah.

"Hampir 250 an (juta) itu waktu tahun 2008. Dan itu yang saya bayar harga ICU. Dari lahir sampai pulang itu harga MICU, MICU tahu kan? ICU anak. Saya menunjukan kepada Omni bahwa saya sebagai orang tua itu mampu membayar," pungkasnya.

RS Omni Alam Sutera. Foto: www.omni-hospitals.com
RS Omni Alam Sutera. Foto: www.omni-hospitals.com

Alasan Juliana menggugat dokter Ferdi karena penangan bayi usai melahirkan seharusnya menjadi tanggung jawab dokter anak tersebut.

"Karena waktu dilahirkan prosesnya sebagai sepasang bayi kembar identik mereka sehat dan tidak ada indikasi ada cacat dari dalam kandungan saya. Nah cacat kebutaan itu terjadi karena lepasnya syaraf retina akibat perawatan selama inkubator yang di mana pemakaian oksigen di inkubator sangat tinggi," lanjutnya.

Tingginya pemasangan di inkubator ini menurut Juliana sebagai tanggung jawab dari dokter Ferdy. Terkait dengan perkembangan anak kembarnya yakni Jared Christophel dan Jayden Christophel, Juliana mengatakan, kedua anaknya sudah bersekolah dan sudah tidak mengikuti pengobatan rutin seperti sebelumnya.

"Jared harus di asrama karena dia sekloah khusus tuna netra, kalau Jayden di sekolah formal," kata Juliana.

Sebelumnya kasus dugaan malapraktik yang melihatkan RS Omni Alam Sutera terhadap kedua anak kembar Juliana Dharmadi ini sempat dihentikan pihak kepolisian pada 2010. Padahal, ketika itu, orangtua korban sudah meminta keadilan penegak hukum atas kerusakan mata yang dialami kedua anaknya yang masih bayi. 

Bahkan, untuk memastikan kondisi mata kedua anak kembarnya itu, pihak keluarga sempat membawa kedua anaknya hingga ke Westmead Childrens Hospital Sydney, Australia. Di rumah sakit ini, kedua anaknya ditangani dokter spesialis mata dan retina Jeremy Smith.

Dari seluruh pemeriksaan dokter tersebut, terkuak Jared mengalami kebutaan total. Kebutaan ini diduga akibat malapraktik yang mengakibatkan kerusakan syaraf pada bagian retina sehingga tidak dapat dilakukan operasi dan transplantasi.

Dokter di RS Omni Alam Sutera yang menangani Jared dan Jayden, menurut Juliana, terindikasi tidak mengambil tindakan pencegahan sesuai standar operasional prosedur. Dokter tersebut juga tidak menyampaikan informasi yang jelas dan akurat terkait kesehatan maupun kondisi organ tubuh kedua bayi kembarnya.

Atas peristiwa ini, pihak keluarga menggugat para tergugat untuk memberikan ganti rugi secara materil maupun immateril sekitar Rp 2,68 miliar. YH

Reporter: Walda Marison
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500