Ilustrasi kekerasan anak. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Kasus Kekerasan Anak, KPAI: Jatim Lebih Terbuka dari DKI Jakarta

Estimasi Baca:
Selasa, 24 Jul 2018 16:45:37 WIB

Kriminologi.id - Angka kekerasan anak yang dikeluarkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau Kemenpppa Tahun 2018 Jawa Timur menempati posisi paling tinggi di banding DKI Jakarta.

Angka itu menunjukkan kepala daerahnya lebih terbuka dan serius dalam menangani kasus kekerasan anak, kata Komisioner KPAI, Rita Pranawati kepada  Kriminologi.id, Selasa, 24 Juli 2018.

Ia menyebutkan daerah yang data laporan kekerasan anak lebih banyak itu berarti sistem keterbukaannya lebih baik. Selain lebih terbuka, kata Rita, penanganan kekerasan anak di Jawa Timur relatif serius.

"Karena terkadang korban melapor itu justru menimbulkan trauma. Belum lagi stigma sosial yang berat, waktu dan biaya untuk melapor," ujar Rita. 

Infografik Peta Jumlah Kekerasan pada Anak Tahun 2018. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id
Peta Kekerasan Anak Tahun 2018

Rita menambahkan perhatian Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya, Jawa Timur terhadap persoalan anak ini menjadi salah satu faktor yang membuat tingkat kepercayaan masyarakatnya untuk melaporkan tindak kekerasan anak meningkat. 

Akan tetapi, kata Rita, bisa jadi ini juga menjadi alarm agar Jawa Timur segera berbenah karena faktanya laporan kekerasan anak paling tinggi. 

Saat ditanya dengan kasus di DKI Jakarta yang hanya tercatat 7 kasus, Rita menjawab itu banyak faktor. Bagi Rita, angka itu bisa menunjukkan kalau masyarakat melaporkan tindak kekerasan itu tidak hanya ke satu lembaga pemerhati anak semata. 

"Bisa jadi di DKI itu melaporkannya ke tempat lain, Misal KPAI, Komnas Perempuan, LBH Apik, LBH Jakarta, atau mendatangi ke polisi langsung," ujarnya.   

Meski demikian, kata Rita, bisa jadi kasus kekerasan anak di DKI Jakarta itu lebih banyak dari data Kemenpppa jika divalidasi ulang. 

"Rasanya kalau divalidasi ulang hingga pertengahan tahun 2018 itu bisa lebih banyak," ujarnya. 

KPAI mengimbau untuk menekan angka kekerasan anak ini butuh kerja sama semua pihak, termasuk keluarga. Dengan kecakapan orang tua dalam mengasuh anak dan sekolah yang memberikan pendidikan karakter terhadap anak, bisa menakan jumlah kekerasan anak. 

"Edukasi tentang menghargai kepada orang lain dan ragam pendidikan karakter lainnya sangat penting. Juga tentang kesehatan reproduksi. Kalau korban anak laki-laki paling banyak SD, Itu jelas menunjukkan lemahnya pendidikan," ujarnya. 

Berdasarkan data kasus kekerasan anak yang dikeluarkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau Kemenpppa di pertengahan tahun 2018, Jawa Timur menempati urutan paling tinggi dengan 424 anak.

Sedangkan DKI Jakarta berada di uruutan paling bawah, alias terendah dengan jumlah 7 anak. Dan Papua berada di urutan kedua dari bawah, setelah DKI dengan jumlah 12 anak. 

Reporter: Syahrul Munir
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500