Stop kekerasan terhadap anak. Foto: Pixabay.com

Kementerian PPPA: Internet Sering Dimanfaatkan untuk Eksploitasi Anak

Estimasi Baca:
Kamis, 26 Jul 2018 11:04:20 WIB

Kriminologi.id - Untuk mencegah dampak buruk dari penggunaan internet, anak harus memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Seringkali sisi buruk internet dimanfaatkan untuk mengeksploitasi anak.

Menurut Sekretaris Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pribudiarta Nur Sitepu, penguatan diri anak penting dilakukan untuk mencegah dampak buruk dari penggunaan internet.

"Anak harus memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Anak harus mampu memahami dan mendeteksi kemungkinan bahaya yang mengancam, cara menghindari dan mengatasi," kata Pribudiarta, di Wisma Antara, Jakarta, Kamis, 26 Juli 2018.

Dalam Seminar Hari Anak Nasional 2018 itu, Pribudiarta juga mengatakan internet memiliki dua sisi, yaitu sisi baik dan sisi buruk. Seringkali sisi buruk itu dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak baik, termasuk yang mengeksploitasi anak.

Menurutnya, dampak buruk internet merupakan ancaman serius bagi generasi muda Indonesia. Apalagi, Indonesia merupakan negara dengan pengguna media sosial keenam terbesar di dunia.

"Jumlah ponsel sudah lebih banyak dari pada jumlah penduduk. Itu berarti satu orang sudah memiliki lebih dari pada satu ponsel," tuturnya.

Pribudiarta juga mengatakan, saat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika memutuskan menutup sementara aplikasi Tik Tok, banyak protes dari anak-anak dan kalangan muda.

"Sebenarnya bukan ditutup, tapi untuk dievaluasi agar mereka bisa memastikan muatan dalam aplikasi tersebut tidak mengandung hal-hal yang buruk," katanya.

Berdasarkan data Kemenppa hingga pertengahan tahun 2018, tercatat 3. 307 anak di seluruh Indonesia yang menjadi korban kekerasan sepanjang pertengahan tahun 2018. Provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama dengan jumlah 424 anak, disusul tetangganya Jawa Tengah dengan selisih 16 kasus lebih sedikit. 

Sementara DKI Jakarta adalah daerah yang paling sedikit kasusnya, yakni hanya 7 kasus, dan Papua menempati posisi kedua dari bawah dengan jumlah 12 kasus. 

Berbeda dengan data yang diluncurkan KPAI per 31 Mei 2018, sebanyak 1.885 anak yang menjadi korban kekerasan. Masih menurut data KPAI, tahun 2014 merupakan masa paling buruk bagi anak, mengingat angka anak korban kekerasan itu melonjak hingga 5.066 anak. AS

Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500