Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak(PPPA), Yohana Susana Yambise, Foto: Antaranews.com

Kementerian PPPA Kaji Kasus Tewasnya Siswa SD Akibat Perkelahian

Estimasi Baca:
Jumat, 27 Jul 2018 16:05:48 WIB

Kriminologi.id - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise mengatakan pihaknya sedang mengkaji kasus siswa SD yakni HK (12) di Garut, Jawa Barat yang berkelahi dan menewaskan teman sebangkunya FN (12). Menurut Yohana kasus itu harus masuk ke dalam sistem peradilan pidana anak.

"Kami mengkaji dulu perkembangannya seperti apa. Namun, apa pun yang terjadi dan di mana pun, biasanya kepala dinas sudah menangani," kata Yohana saat diwawancarai di Jakarta, Kamis, 26 Juli 2018.

Yohana mengatakan kasus itu harus masuk ke dalam sistem peradilan pidana anak yang mengedepankan keadilan restorasi melalui mediasi. Anak-anak masih bisa dibina sehingga tidak boleh dihukum berat sebagaimana orang dewasa.

Yohana mengaku belum mengetahui kronologis kejadian tersebut secara jelas. Namun, dia menyatakan rasa sedih dan penyesalannya atas kejadian tersebut.

"Tugas kita semua melindungi anak-anak. Anak-anak adalah anak kita semua. Kalau kita melihat ada anak berkelahi, harus melerai dan bantu agar jangan ada perkelahian," tuturnya.

Sebelumnya, Polres Garut menghentikan penyidikan terhadap HK. Polisi akan mengajukan diversi atas kasus ini ke pengadilan.

"Hari ini kami akan lengkapi administrasinya (diversi)," kata Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wigunadi Garut, Kamis, 26 Juli 2018.

Budi menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan tokoh masyarakat, pihak keluarga dari kedua anak, dan lembaga hukum terkait untuk tidak melanjutkan perkara tersebut. Budi mengatakan, anak terduga penganiaya korban itu akan diserahkan kepada orang tuanya, namun tetap dalam pantauan polisi.

"Status anak tidak tersangka, perbuatan ini bukan disengaja, namun hanya membela diri," kata Budi.

Ia berharap, upaya kepolisian ini akan membuat anak tidak merasa tertekan. Ia khawatir akan mengganggu kondisi kejiwaannya. "Secara psikologis membuat anak menjadi tertekan," kata Budi menambahkan.

Sebelumnya dua siswa SD kelas 6 yakni HK (12) dan FN (12) terlibat perkelahian yang dipicu tuduhan FN kepada HK karena telah menyembunyikan buku pelajaran. Usai pulang sekolah siswa SD HK menganiaya FN menggunakan gunting bekas pelajaran prakarya kesenian di sekolahnya.

Akibat dari perkelahian itu, siswa SD yakni FN mengalami luka di bagian kepala dan punggung. Meski korban FN sempat mendapat perawatan di puskesmas setempat dan di Rumah Sakit Garut sejak Sabtu, 21 Juli 2018 siang, namun keesokan harinya yakni pada Minggu, 22 Juli 2018 siang, ia meninggal dunia. AS

Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500