Ilustrasi kekerasan di sekolah. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kepergok Jajan di Luar Sekolah, Dua Siswi Ditampar Kepsek

Estimasi Baca:
Rabu, 18 Apr 2018 17:44:05 WIB

Kriminologi.id - Dua orang siswi di SMAN 5 Aceh Barat Daya, menjadi korban kekerasan kepala sekolah di sekolah itu. Pelaku AB diduga menampar muridnya itu karena kepergok membeli jajanan di luar sekolah. AB dilaporkan ke pihak kepolisian atas perlakuannya kepada dua siswinya berstatus anak yatim.

Dua siswi yang menjadi korban kekerasan kepala sekolah tersebut berinisial AM, warga Desa Adan dan M, warga Desa Kuta Bakdrien, Kecamatan Tangan-Tangan.

Korban M yang ditemui wartawan di rumahnya di Desa Kuta Bakdrien, terlihat trauma dan terbaring lemas di depan TV bersama keluarganya. Pipi kiri anak yatim korban tersebut dilumuri obat-obatan.

"Pipi saya ini bengkak, telinga saya sakit sekali setelah ditampar di sekolah," ungkap M yang ditemani ibu kandungnya bersama dengan sejumlah keluarganya yang lain.

Ia juga menceritakan kejadian penamparan yang dialami oleh bersama AM pada Senin, 16 April 2018, sekitar pukul 09.30 WIB usai membeli makanan di luar pagar sekolah.

"Pagi itu tidak ada guru yang masuk, maka saya bersama 5 orang teman-teman beli kue di luar sekolah. Waktu balik ke sekolah kami semua dipanggil oleh kepala sekolah dan disuruh berbaris," ujar M.

Saat sedang berbaris, menurut korban, makanan yang berada di tangan mereka ditepis oleh kepala sekolah tersebut.

“Lalu kepala sekolah langsung menampar Ayu Masrida kemudian baru ditampar saya hingga pipi saya sekarang bengkak dan telinga saya sakit," ujarnya.

Setelah ditampar, kata korban, mereka kemudian disuruh masuk ke kelas dan disuruh mengambil kembali kue-kue yang telah jatuh ke tanah. Setelah ditampar korban mengaku langsung pulang ke rumahnya di Desa Kuta Bakdrien untuk memberitaukan pada ibu kandungnya tentang peristiwa yang dialaminya di sekolah tersebut.

Menurut ibu korban setelah dirinya mendengar kejadian itu, ia kemudian mendatangi sekolah untuk menanyakan kesalahan yang dilakukan anaknya hingga terjadi penampasan.

"Setelah saya sampai ke sekolah, kepalanya tidak ada sudah pulang. Kemudian hari itu juga saya bawa anak ke Polres Abdya untuk buat laporan pengaduan penganiaan," ujarnya.

"Setelah kami buat laporan, malam itu juga anak saya divisum," ungkapnya sambil menunjukkan surat tanda bukti lapor polisi.

Kasat Reskrim Abdya, Ipda Zul Fitriadi saat dihubungi wartawan mengaku telah menerima laporan dugaan penganiaan siswi oleh oknum kepala sekolah tersebut, namun ia belum mengetahui secara jelas pokok persoalan tersebut.

"Kalau laporan pengaduan sudah masuk, cuma saya belum tahu pokok masalahnya. Nanti saya cek dulu pada anggota penyidik," ujarnya singkat sambil mengaku sedang mengikuti rapat.

Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500