Sejumlah warga mengantre mengambil sembako gratis saat acara Untukmu Indonesia di kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (28/4). Foto: Antara

Kisah Pilu Ayah Korban Sembako Maut Monas, Kehilangan Anak dan Motor

Estimasi Baca:
Minggu, 6 Mei 2018 22:05:16 WIB

Kriminologi.id - Sudah jatuh tertimpa tangga. Demikian pepatah yang dialami Djunaedi (41), ayah Mahesa Djunaedi, bocah yang menjadi korban tewas dalam acara pembagian sembako di Monas, Jakarta. Tak hanya kehilangan anaknya yang tewas di Rumah Sakit Tarakan Jakarta, pria berusia 41 tahun itu juga harus kehilangan harta bendanya berupa sepeda motor.

Djunaedi yang ditemui di Jakarta, menceritakan kronologi pahit yang dialaminya itu. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir di perusahaan swasta di Jakarta itu, mengatakan anak pertamanya Mahesa mendatangi Monas tanpa sepengetahuan dia dan istrinya. Mahesa diketahui datang ke Monas bersama temannya bernama Akmal.  

"Anak saya itu ga dapat kupon pembagian sembako itu. Mungkin teman-temannya berangkat ramai-ramai. Tapi anak saya itu tak berangkat ramai-ramai. Dia berangkat cuma berdua sama temannya, Akmal. Mungkin Akmal ini sahabatnya, jadi dia mau ikut. Biasanya anak saya tidak pernah kemana-mana," kata Djunaedi. 

Sebelum mengetahui anaknya pergi ke Monas, kata Djunaedi, dia sempat bertemu dengan anaknya. Itu terjadi sebelum dirinya mengantarkan istrinya ke Stasiun Kota sekitar pukul 06.30 WIB. Saat itu, istrinya berencana ke RSUD Pelni untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. 

“Lalu saya balik ke rumah, kira-kira jam setengah 9 saya siap-siap berangkat kerja. Anak saya, saya pesenin tolong jangan kemana-mana, ini ada sarapan dan uang jajan, lalu saya berangkat kerja," katanya.

Pada pukul 15.00 WIB, istrinya atau ibu dari Mahesa pulang ke rumahnya dan mendapati Mahesa tak di rumah. Sontak, sang istri menelepon Djunaedi memberitahukan anaknya tak di rumah. Membalas informasi istrinya itu, Djunaedi hanya berkata mungkin sedang main. Sejam kemudian, informasi tentang Mahesa kembali datang dari istrinya. Kali ini, Mahesa dikabarkan hilang di kawasan Monas. 

"Saya bilang kok bisa, ini temennya ngasih tahu, dia (Mahesa) berangkat sama temennya Akmal, kasih kabar ke rumah. Anak saya kan biasa dipanggil sosis di rumah. Lalu si Akmal ini datang ke rumah, dan tanya sama istri saya, mama sosis, si sosis uda pulang belum, istri saya jawab belum, kenapa memangnya Akmal, si Akmal jawab tadi pas berangkat ke Monas sama saya, lalu terpisah," tuturnya.

Setelah mendapat kabar tersebut, kata Djunaedi, ibu Mahesa pun bergegas menuju ke kawasan Monas untuk mencari anak pertamanya itu. Sementara dirinya langsung berangkat dari Kelapa Gading, Jakarta Utara menuju Monas. Sesampainya di kawasan Monas dan bertemu istrinya, Djunaedi terus berupaya mencari anaknya dan juga melapor ke petugas yang ada di lokasi.

"Dari rumah datang keponakan saya, ketemuan di Monas, kami bertiga berpencar, istri saya depan istana, dan saya tanya ke petugas, saya harus kemana nih, saya penasaran, istri saya suruh tunggu di depan istana, saya sendiri cari depan Polsek deket pintu Gambir, ponakan saya cari di pintu Masjid Istiqlal," tuturnya.

Djunaedi, istrinya dan keponakannya terus berkeliling di kawasan Monas mencari Mahesa. Namun, Mahesa juga tak ditemukan. Di sela-sela mencari anaknya di kawasan Monas, Djunaedi kembali tertimpa musibah. Motor yang dikendarainya dari Kelapa Gading menuju Monas ternyata hilang.

"Sekitar pukul 20.00 WIB, sudah sepi paling tinggal petugas saja, setelah saya keluar menuju tempat parkir di dekat Gambir, kendaraan saya sudah tidak ada. Saya cari keliling tempat parkir, mungkin ada yang geser, saya tanya petugas ternyata sudah ganti piket. Dia bilang enggak tahu, ya sudah saya pikir sudah hilang," ucapnya.

Pada akhirnya sekitar pukul 21.00 WIB, lanjut Djunaedi, ada kabar bahwa Mahesa ditemukan oleh petugas Satpol PP dan telah dibawa ke Rumah Sakit Tarakan. Setelah itu Djunaedi dijemput di kawasan Monas untuk menuju Rumah Sakit Tarakan. Di sanalah, ia menemukan anaknya sudah dalam kondisi tak bernyawa. TD

KOMENTAR
500/500