Dok. Wakil KPAI Kota Bekasi Rury Arief Rianto. Foto: Facebook Rury Arief Rianto

KPAI Kota Bekasi: Anak Memang Salah, Tapi Apa Layak Diarak Telanjang

Estimasi Baca:
Jumat, 13 Apr 2018 07:05:29 WIB
Wakil KPAI Kota Bekasi, Rury Arief Rianto menyayangkan sikap Nur Tuyul dan warga lainnya yang melakukan persekusi terhadap anak di bawah umur AJ.

Kriminologi.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kota Bekasi menyayangkan adanya persekusi yang dilakukan warga terhadap dua anak di bawah umur di Kampung Rawa Bambu Besar, Bekasi Utara, Kota Bekasi, Minggu, 8 April 2018 dini hari.

Wakil KPAI Kota Bekasi, Rury Arief Rianto menyayangkan sikap Nur Tuyul dan warga lainnya yang melakukan persekusi terhadap anak di bawah umur AJ.

"Anak memang salah, cuma jangan sepeti itu penangannya. Apalagi sampai ditelanjangi. Jelas akan menggangu psikologis mereka," kata Rury kepada Kriminologi.id, Kamis, 12 April 2018.

Menurut Rury saat ini korban persekusi mengalami trauma yang berat. Si anak enggan ke luar dan tidak mau ke sekolah karena malu.

"Sekarang sudah berani ke luar dari kamar, kemarin enggak pernah mau keluar dan enggak mau sekolah karena malu," kata Rury.

Untuk memulihkan psikologis kedua anak, KPAI berencana akan melakukan konseling agar mengurangi traumatik yang masih ada di dalam diri anak. 

"Traumatik psikis, anak itu jadi takut, jadi enggak mau keluar, enggak mau sekolah karena sudah dipermalukan di depan umum, ditelanjangi. Nanti kami akan lakukan konseling utuk menghilangkan itu," jelas Rury.

Sebelumnya, AJ (12) telah lima hari mengurung diri di kamar rumahnya di Jalan Al Bahar, Kaliabang Bungur, Bekasi Utara, Kota Bekasi.

Pengurungan diri AJ terjadi lantaran dirinya menjadi korban persekusi oleh Nur Tuyul beserta warga Kampung Rawa Bambu Besar, depan Masjid Al-Abror, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi.

Dengan wajah yang terlihat seperti orang ketakutan, AJ menceritakan saat itu, Minggu, 8 April 2018 dini hari, ia beserta dua rekanya HK (12) dan R (14) nongkrong tidak jauh dari rumah. Bosan ketiganya pindah tongkrongan di dekat jemuran tepatnya di rumah mertua Nur Tuyul.

Di tongkrongan baru, HK pamit pergi sebentar, AJ dan R tidak mengetahui HK pergi ke mana. Ternyata HK pergi untuk mencuri jaket yang ada di jemuran milik mertua pelaku Nur alias Tuyul. Aksi HK ketahuan oleh Nur, HK kemudian melarikan diri, R dan AJ yang tidak tahu apa-apa juga ikut melarikan diri.

"Saya cuma diajak pindah tempat nongkrong, enggak tahu kalau mau nyuri jaket, ternyata temen saya ngambil jaket, ketahuan saya takut ikut lari juga," kata AJ di rumahnya, Kamis, 12 April 2018.

Salah satu anak korban persekusi di Kampung Rawa Bambu Besar, Bekasi Utara. Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id
Salah satu anak korban persekusi di Kampung Rawa Bambu Besar, Bekasi Utara. Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id

Ketiganya tunggang langgang dikejar Nur Tuyul dan rekan-rekanya. Pelarian ketuanya terhenti setelah Nur dkk bisa menangkap AJ, HK, sementara R berhasil melarikan diri dari kejaran Nur.

Setelah ditangkap, AJ dan HK langsung diarak pelaku dan warga lainnya menuju ke rumah AJ yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari lokasi kejadian. Sebelum dibawa ke rumah, baju dan celana kedua anak dibuka hingga telanjang.

Saat diarak menuju rumah, leher AJ dan HK dibekap serta rambutnya dijambak sambil diteriaki maling. Ucapan itu membuat  warga keluar dari dalam rumah.

Sampai di rumah AJ, Tuyul dan warga lainya menggedor-gedor rumah orang tua AJ. Ayah AJ bernama Sudirman (58) kaget ketika melihat anaknya dikerumuni warga dengan keadaan tak berbusana.

Saat itu, kondisi Nut Tuyul sangat emosional. Anaknya AJ dipukuli, dijambak oleh Nur Tuyul.

"Saya udah mohon jangan di apa-apain, tapi pelaku tetap keukeuh melakukan kekerasan, dan ancam bakal melaporkan ke polisi," kata Sudirman.

Salah satu anak korban persekusi di Kampung Rawa Bambu Besar, Bekasi Utara. Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id
Salah satu anak korban persekusi di Kampung Rawa Bambu Besar, Bekasi Utara. Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id

Beruntung aksi persekusi bisa diatasi setelah ada tokoh yang menenangkan Nur Tuyul dan warga lainya. Kejadian itu berakhir dengan jalan kekeluargaan.

Meski sudah selesai, masalah baru timbul. Setelah kejadian persekusi Minggu, 8 April 2018 dini hari, Sudirman mengaku anaknya AJ tak berani ke luar rumah.

"Pas didatangi mas wartawan saja anak saya baru berani ke luar kemarin cuma ngurung diri di kamar," kata Sudirman.

Tidak hanya itu, masalah juga timbul di sekolah. Sebab, informasi persekusi yang dialami AJ hingga diarak telanjang sepanjang 400 meter cepat menyebar hingga ke sekolah. Hal itu kemudian membuat AJ tidak berani bersekolah karena malu.

"Dari Senin sampai sekarang enggak sekolah dan enggak ke luar ke rumah. Sejak kejadian itu anak saya ngunci saja di dalam ketakutan," ujarnya.

Kini kasus persekusi telah mencuat ke publik. Dengan didampingi KPAI Kota Bekasi, Sudirman telah melaporkan kejadian tersebut ke Polres Metro Bekasi Kota.

"Sudah melaporkan ke Polisi didampingi KPAI dan sudah visum di RSUD Kota Bekasi," ucap Sudirman.

 DM
KOMENTAR
500/500