Gedung Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Foto: Yenny Hardiyanti/Kriminologi.id

KPAI Pastikan Guru Cabuli Siswa di Depok Dijerat UU Perlindungan Anak

Estimasi Baca:
Sabtu, 9 Jun 2018 12:15:21 WIB

Kriminologi.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI memastikan polisi menjerat pelaku kasus pelecehan seksual di salah satu sekolah dasar di Kota Depok Jawa Barat, AR (21), terhadap belasan siswa dengan Undang-Undang Perlindungan Anak. Pasalnya untuk memberikan efek jera kepada tersangka W atas perbuatannya, hukum pidana biasa tidaklah cukup.

Tindakan guru Bahasa Inggris di sekolah itu  berdampak luas menurut KPAI berdampak tidak hanya dirasakan oleh para korban yang masih berusia anak-anak, melainkan juga para saksi anak yang menyaksikan kejadian itu di dalam ruang kelas.

"Kita akan memastikan polisi memakai Undang-undang Perlindungan Anak, karena hukumannya lebih berat, apalagi pelakunya adalah orang terdekat korban. Yang kami maksud dengan orang terdekat itu adalah guru dan orang tua yang mempunyai hubungan yang baik dengan anak," kata Komisioner Bidang Pendidikan KPAI, Retno Listyarti kepada Kriminologi.id melalui sambungan teleponnya pada Jumat, 8 Juni 2018.

Retno menilai dengan dijerat menggunakan UU Perlindungan Anak, maka terdakwa akan mendapatkan tambahan hukuman sepertiga dari total hukuman. Kalau ancaman hukumannya semula 15 tahun, kata Retno, maka total hukumannya yang akan ia terima jika memakai UU Perlindungan Anak akan menjadi 20 tahun.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/5b1a94c511ab9-1528468677-68a924bc8b749cf5e5e988632909e917.jpg

Pertemuan dengan pihak kepolisian resor Depok untuk menyampaikan hal ini, kata Retno, akan dilakukan pada Senin, 11 Juni 2018 siang. Ketika pertemuan dengan kepolisian itu, pihaknya akan mengumpulkan informasi lengkap terkait dengan kasus pencabulan yang dilakukan oleh tersangka kepada anak-anak didiknya.

"Kita tentu harus melakukan asesmen dulu, kan diduga dilakukan di dalam kelas, dan yang menyaksikan ini orang lain, kita juga harus memastikan mana yang menjadi korban dan mana yang menjadi saksi, ini yang harus ditelusuri. Semua ini akan kami pastikan kepada kepolisian," kata Retno.

Retno mengatakan, meski pelaku pelecehan itu sudah ditahan aparat kepolisian, bukan berarti permasalahan itu selesai. Akan tetapi, yang menjadi fokus saat ini, menurut Retno, adalah memberikan perhatian pada korban dan juga para saksi yang masih berusia anak-anak, dan bahkan orang tua korban yang mengalami trauma.

Menurutnya, ada sisi psikologis yang harus dipulihkan segera. Untuk memulihkan psikologis tersebut, rencananya, pihak KPAI juga akan menggandeng dengan pihak universitas, salah satunya Universitas Indonesia untuk menyediakan tenaga psikolog. Dengan cara ini, pihaknya yakin dapat memulihkan psikologis para korban dari kejadian ini dengan lebih cepat. 

Sebelumnya diberitakan, sedikitnya 13 siswa rata-rata berjenis kelamin laki-laki kelas 6 telah mengalami pelecehan seksual oleh guru Bahasa Inggrisnya di salah satu sekolah di Kota Depok, Jawa Barat. Dari sebanyak itu, hanya 4 siswa yang telah melapor ke Polres Depok dan menjalani proses visum.

Pada Kamis, 7 Juni 2018, pelaku W (21) telah ditangkap dan kini ditahan di Polres Depok untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. AS

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500