Ketua KPAI Susanto di Kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Foto: Walda Marison/Kriminologi.id

KPAI: Pernikahan di Bawah Umur Dianggap Solusi Hadapi Masalah

Estimasi Baca:
Senin, 28 Mei 2018 16:55:47 WIB

Kriminologi.id - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyesalkan jumlah laporan pernikahan anak di bawah umur yang berbanding terbalik dengan kasus yang ia temukan di daerah. Ketua KPAI Susanto menilai, hal ini terjadi karena banyak masyarakat yang memilih untuk tidak melaporkan adanya pernikahan di bawah umur ke KPAI. Masyarakat menganggap pernikahan di bawah umur itu sebagai sebuah solusi dalam menghadapi masalah.

"Kami melihat kenapa sedikit laporan yang masuk ke kami tentang pernikahan di bawah umur karena sebagian masyarakat menganggap hal itu bukan masalah serius," ujarnya di Kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin,28 Mei 2018.

Susanto menjelaskan, masyarakat malah menganggap pernikahan di bawah umur itu sebagai sebuah solusi dalam menghadapi masalah.

Ia menyebutkan, salah satunya terjadi di Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu. Di sana, kata Susanto, siswa SMP harus rela dinikahkan dengan alasan takut tinggal sendiri di rumah karena sang ibu telah tiada, dan sang ayah kerap bekerja keluar kota.

Selain itu, kata Susanto, sejak Mei 2017 hingga sekarang, juga ada anak lelaki berusia 16 tahun yang menikah dengan seorang nenek di Sumatera Selatan. 

Selain alasan tersebut, kata Susanto, pernikahan di bawah umur terjadi karena sang anak terlanjur hamil di luar nikah.

"Kalau karena accident dan harus menikah apakah ini akan menyelesaikan masalah?," ujar Susanto.

Meski laporan yang ia terima tentang kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak jauh lebih tinggi dibanding pernikahan dini, namun ia menguraikan tentang adanya dampak negatif dari pernikahan di bawah umur.

Susanto menjelaskan, dampak itu di antaranya mulai dari putusnya pendidikan sang anak, terjadinya kemiskinan berulang, hingga memengaruhi aspek kesehatan tidak hanya pada pasangan tersebut.

Ia juga menyoroti sikap Kantor Urusan Agama (KUA) di daerah kerap memberikan izin bagi pasangan di bawah umur untuk menikah. Pihaknya menegaskan, usia pernikahan ideal sesuai dengan  peraturan UU Perkawinan adalah 21 tahun.

Ia mengungkapkan, dari data UNICEF pada tahun 2015 prevalensi perkawinan anak sebesar 23 persen. Bahkan, satu dari lima perempuan yang berusia 20 - 24 tahun telah melakukan perkawinan pertama pada usia di bawah 18 tahun.

Dengan adanya landasan hukum ini serta dampak negatif yang kemungkinan timbul akibat pernikahan di bawah umur, Susanto berharap pihak KUA menolak untuk memberikan izin kepada mereka yang hendak menikah di usia dini.

Selain itu, ia juga berharap agar orang tua mampu berperan memberikan pengasuhan terbaik untuk memenuhi kebutuhan anak, tidak hanya kebutuhan fisik tetapi psikologis, serta memberikan edukasi kesehatan reproduksi kepada anak. YH

Reporter: Walda Marison
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500