Pelaku pencabulan bocah di depok saat diperiksa polisi. Foto: Ist/Kriminologi.id

KPAI: Saksi Anak Kasus Pelecehan Seksual Alami Trauma Lebih Berat

Estimasi Baca:
Senin, 11 Jun 2018 20:05:18 WIB

Kriminologi.id - Trauma akibat ulah tak senonoh oknum guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah dasar di Kota Depok, Jawa Barat tidak hanya berdampak kepada korban. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Sulisyarti, mengatakan pada beberapa kasus, saksi justru mengalami beban trauma yang lebih berat daripada korban.

Retno Sulisyarti menjelaskan untuk mengantisipasi beban trauma yang dialami saksi, pihaknya akan berfokus kepada pemulihan psikis anak yang menjadi saksi untuk menjalani proses rehabilitasi.

"KPAI tidak hanya berfokus pada korban, namun juga turut memerhatikan anak yang menjadi saksi. Karena tindak pencabulan oleh oknum guru di lakukan di dalam ruangan kelas. Pada beberapa kasus, saksi justru mengalami beban trauma yang lebih berat daripada korban," ujar Retno di selasar Polres Depok, Senin, 11 Juni 2018. 

Oleh karena itu, Retno menegaskan, bahwa KPAI juga akan mengupayakan setiap anak yang menjadi saksi akan mengikuti rehabilitasi atau terapi konseling.

Retno menjelaskan, karena hanya ada 3 psikolog di P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak) Kota Depok, maka pihaknya akan menggandeng tim psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia untuk menyediakan wadah rehabilitasi di kampus yang bersangkutan.

Sementara itu Ketua KPAI, Susanto menambahkan, bentuk trauma yang ditunjukkan korban yakni sikap murung, penurunan semangat belajar, menutup diri, kurang percaya diri, dan takut bertemu dengan tersangka.

Agar pihaknya dalam melakukan proses rehabilitasi terhadap korban dan juga saksi, Susanto mengatakan, perlu adanya kerjasama dengan orang-orang terdekat dengan para korban.

"Diperlukan kerja sama dengan orang-orang terdekat dengan setiap korban, terutama orang tua mereka agar korban sedikit demi sedikit berkenan membuka lebar perlakuan bejat apa yang sudah mereka alami dari guru mereka sendiri," kata Susanto tegas.

Proses rehabilitasi atau terapi psikis ini, Retno kembali menambahkan, bahwa tidak hanya dilakukan untuk korban dan saksi saja, melainkan juga kepada orangtua korban dan saksi. 

"Setiap orang tua yang anaknya menjadi korban atau saksi tindak pencabulan juga harus diikutsertakan dalam proses terapi konseling. Karena dikhawatirkan ada orang tua murid yang tidak terima (tidak kuat) melihat anaknya menjadi korban atau saksi. Apabila orang tuanya seperti itu, maka kemungkinan besar anak-anak mereka juga akan mengalami kesulitan serupa," ujar Retno.

Penanganan trauma ini menjadi poin penting atas kesepakatan antara KPAI dengan Polres Depok serta P2 TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak) pada pertemuan hari ini di Polres Depok.

Dari hasil rapat koordinasi antara KPAI dengan Polres Kota Depok serta P2 TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak) tersebut, menghasilkan proyeksi jangka pendek yakni adanya rangkaian rehabilitasi dan identifikasi terhadap anak-anak yang diduga terpapar tindakan pelecehan ini namun belum terdata oleh pihak kepolisian. Untuk menjalani program rehabilitasi ini, KPAI akan bekerja sama dengan Universitas Indonesia.

Adapun tersangka WR (23) kini sudah ditahan di Polres Kota Depok. Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 82 Undang-Undang Perlidungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Sebelumnya diberitakan, sedikitnya 13 siswa rata-rata berjenis kelamin laki-laki kelas 6 telah mengalami pelecehan seksual oleh guru Bahasa Inggrisnya di salah satu sekolah di Kota Depok, Jawa Barat.

Dari sebanyak itu, hanya 4 siswa yang telah melapor ke Polres Depok dan menjalani proses visum. Pada Kamis, 7 Juni 2018, pelaku W (21) telah ditangkap dan kini ditahan di Polres Depok untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. YH

Reporter: Erwin Maulana
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500