Ilustrasi perdagangan orang. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

KPAI: Waspada Nikah Siri dan Kawin Kontrak dalam Perdagangan Anak

Estimasi Baca:
Selasa, 31 Jul 2018 08:49:16 WIB

Kriminologi.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI mengingatkan masyarakat agar mewaspadai istilah agama seperti nikah sirri dan kawin kontrak yang dijadikan pembenaran dalam memuluskan kasus perdagangan anak. Pernyataan itu dikeluarkan terkait kasus perdagangan orang ke Tiongkok dengan modus kawin kontrak yang diungkap Polda Jawa Barat.

Ai Maryati Solihah, Komisioner bidang Trafficking dan Eksploitasi Anak KPAI, mengatakan sering kali istilah kawin kontrak, nikah sirri, nikah di bawah tangan, dan nikah usia dini menjadi pintu masuk atau modus perdagangan orang di Indonesia.

“KPAI menghimbau kewaspadaan orang tua dan keluarga harus dibarengi komitmen tokoh agama agar turut menentang perdagangan orang. Karena dalam agama manapun dinyatakan anak bukanlah komoditi yang dapat dipertukarkan apalagi diperjual belikan,” kata Ai melalui sambungan telepon kepada Kriminologi.id, Selasa, 31 Juli 2018.

Ai menegaskan, anak merupakan amanah yang harus dilindungi dan dipenuhi hak mereka dalam kehidupannya. KPAI juga menyoroti manipulasi administrasi menjadi pintu kerentanan migrasi korban perdagangan anak. KPAI mendorong polisi menindak tegas aparat pemerintah menyalahgunakan wewenang untuk memuluskan administrasi perdagangan orang.

“Dalam pengakuan orang tua korban anak-anak ini belum memiliki KTP. Akan tetapi germo dan sindikatnya berhasil meloloskan administrasi korban. KPAI menyoroti manipulasi administrasi menjadi pintu kerentanan migrasi korban perdagangan anak,” kata Ai.

Selain itu KPAI meminta agar korban segera dikembalikan ke Indonesia dan mendapat perlindungan secara fisik dan psikologis agar mereka mendapatkan pemulihan dan kembali dalam pengasuhan keluarga dengan benar.

KPAI mengapresiasi Polda Jabar yang sudah berhasil membongkar sindikat tersebut dengan terus mendorong agar bekerja sampai membongkar hingga akarnya dengan tegas.

Data KPAI menyebutkan, sampai dengan tahun 2018 jumlah kasus trafficking dan eksploitasi anak dari tahun 2011 dalam pantauan KPAI sudah menunjukkan angka 1956 kasus dengan praktik tertinggi adalah anak korban eksploitasi seksual komersial anak dan anak korban prostitusi.

Diberitakan sebelumnya, perdagangan orang atau human trafficking diungkap Polda Jawa Barat. Belasan perempuan yang menjadi korban diketahui berasal dari Kabupaten Purwakarta, Kota Sukabumi, Tangerang, dan Kabupaten Bandung.

Menurut pihak kepolisian, pelaku menggunakan modus kawin kontrak kepada para korbannya. Modus tersebut diyakini polisi sebagai modus baru dalam perdagangan manusia yang dibawa ke Tiongkok.

Kasus itu terungkap karena salah seorang korban berhasil melarikan diri dari lokasi penampungan di sebuah apartemen di Jakarta.

Tiga tersangka sudah ditahan di Polda Jabar terkait kasus tersebut. Keempat pelaku di antaranya Thjiu Djiu Djun alias Vivi Binti Liu Chiung Syin berperan sebagai perekrut, Yusuf Halim alias Aan sebagai perekrut dan warga Tiongkok, Guo Changshan sebagai perantara di Indonesia ke Tiongkok. AS

Reporter: Achmad Sakirin
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500