Siswi TK peserta pawai kemerdekaan di Probolinggo (18/08/2018). Foto: Ist/Kriminologi.id

LPAI: Tidak Elok Cadar Siswi TK Pawai Replika Senjata Dicap Teroris

Estimasi Baca:
Minggu, 19 Ags 2018 22:05:08 WIB

Kriminologi.id - Siswi Taman Kanak-Kanak atau TK Kartika V Probolinggo melakukan pawai kemerdekaan dengan menggunakan pakaian cadar hitam dan membawa replika senjata laras panjang dan pedang.

Hal tersebut membuat kontroversi dengan mengkaitkan kostum yang digunakan anak-anak tersebut merupakan identitas teroris dan menciderai Pancasila dan NKRI.

Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri Amriel justru melihat berbeda. Ia menilai unsur apa sesungguhnya yang membuat kegiatan tersebut dianggap mencederai Pancasila dan NKRI.

"Unsur apa sesungguhnya yang membuat kegiatan tersebut dianggap mencederai Pancasila dan NKRI? Dari sisi motif, sudah terjelaskan di atas bahwa TK tidak punya niatan buruk. Dari kegiatan itu yang dirasa merisaukan yang mana? Senjatanya ataukah pakaian bercadarnya?" kata Reza kepada Kriminologi.id, Minggu, 19 Agustus 2018.

Anak-anak yang mengikuti karnaval dengan membawa replika senjata apai, senjata tajam tombak dan semacamnya, menurut dia, dapat kita saksikan setiap tahun. Namun, selama ini masyarakat tidak risau. Anak-anak bercadar juga semakin lama semakin banyak.

"Salahnya diunsur mana, kalau pakai jilbab (cadar) itu memperlihatkan sisi relijiusnya lewat busana yang mereka pakai. Tak elok lah jika gara-gara cadar mereka dicap ini-itu (teroris)," ujar Reza.

Meski begitu, ia tetap menolak terorisme dan kekerasan terhadap apa pun. Namun harus tetap menghormati hak seseorang.

"Hati-hati juga, sadar atau pun tidak, kita mengenakan stigma ke pihak-pihak tertentu, dari penampilan lahiriah orang yang sedang kita amati dan latar psikis plus sosiologis yang mengendap di kepala kita terhadap penampilan orang tersebut," kata Reza.

Sebelumnya, Polres Probolinggo telah melakukan klarifikasi kepada Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Probolinggo, Jawa Timur sekaligus panitia pawai budaya HUT ke-73 Kemerdekaan RI di Kota Probolinggo.

Dari klarifikasi itu terungkap jika panitia dianggap lalai meloloskan penggunaan atribut cadar dan replika senjata oleh salah satu siswi TK peserta pawai. 

Video Viral Pawai Anak TK Bercadar Bawa Senjata Replika. Foto: Ist/Kriminologi.id
Video Viral Pawai Anak TK Bercadar Bawa Senjata Replika. Foto: Ist/Kriminologi.id

Namun demikian, penggunaan atribut tersebut tidak mengarah kepada simbol-simbol radikalisme atau terorisme.

"Dalam pelaksanaan pawai budaya dari pihak panitia (Disdikpora Kota Probolinggo) lalai dalam melaksanakan kontrol dan pengecekan terkait kostum dan atribut Peserta Pawai Budaya khususnya kepada TK Kartika V Probolinggo," demikian informasi polisi yang diterima Kriminologi.id melalui siaran pers, Jakarta, Minggu, 19 Agustus 2018.

Menurut polisi, penggunaan atribut cadar hitam disertai dengan replika senjata merupakan murni ide dari TK Kartika V Probolinggo itu sendiri. Tujuannya untuk merefleksikan Perjuangan Nabi Muhammad dan tidak ada maksud mengarah kepada simbol-simbol radikalisme/teroris, namun hanya menanamkan keimanan kepada anak didiknya.

Selain itu, kostum tersebut dipilih karena alasan memanfaatkan properti yang ada di TK Kartika V Probolinggo, sehingga tidak perlu menyewa kostum. Kemudian, sebelum pawai digelar, tema yang dibawakan TK Kartika diserahkan kepada panitia.

Dalam pelaksanaannya, panitia tidak melakukan pengecekan terkait kostum yang dipakai sehingga penggunaan cadar dan replika senjata itu pun lolos.

Informasi polisi itu juga menyatakan, setelah penggunaan atribut itu mendapat reaksi di media sosial, sekitar pukul 14.30 WIB Ketua Panitia, Supaiani dan Kepala Sekolah TK Kartika V, Hartatik yang didampingi Kapolres Probolinggo Kota, Dandim 0820 Probolinggo, dan Kadiknas Kota Probolinggo melakukan konferensi pers.

Dalam konferensi pers tersebut, Hartatik menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia. Dia menyatakan jika tema yang diusung tidak memiliki maksud apa pun selain menanamkan keimanan kepada siswi-siswinya.

Reporter: Rahmat Kurnia
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500