Pelaku pembuangan bayi kembar di Bali. Foto: Ist/Kriminologi.id

Mahasiswi Buang Bayi Kembar, Forensik: Ada Luka di Leher dan Perut

Estimasi Baca:
Selasa, 17 Jul 2018 20:50:57 WIB

Kriminologi.id - Orok bayi kembar perempuan yang dibuang mahasiswi asal Manggarai ke samping kamar kos itu diduga dibunuh sebelum dibuang. Bayi kembar perempuan itu diduga tewas dibunuh itu setelah tim forensik menemukan bekas luka senjata tajam di leher dan perut orok bayi tersebut yang ditemukan sudah membusuk di daerah setempat.

Polisi menduga, sebelum dibuang oleh ibunya, LJ alias D yang masih berstatus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Denpasar itu, bayi kembar itu terlebih dahulu dibunuh kekasihnya F setelah lahir.

"Kalau pun hanya dibuang kemungkinan meninggalnya masih dalam kandungan," kata Kanit Reskrim Polsek Dentim Iptu Ario Seno Wimoko mewakili Kapolsek AKP Nyoman Karang Adiputra, di Denpasar, Selasa, 17 Juli 2018.

Ario Seno menduga tindak kekerasan hingga mengakibatkan meninggalnya bayi kembar itu dilakukan di kamar kos mereka. Itu diperkuat oleh keterangan saksi yang juga tetangga kos pelaku sempat mendengar suara tangis bayi.

"Kami menduga mereka membuang bayi kembarnya itu, karena malu atau ingin menutupi aib, maka anaknya dibunuh," katanya.

Kepolisian Sektor Denpasar Timur, Provinsi Bali, hingga saat ini masih memburu pembuang bayi kembar berinisial F yang diduga melarikan diri ke kampung halamannya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

F, warga Pau Rundang, Rego, Macang Pacar, Manggarai Barat itu merupakan seorang mahasiswa di Denpasar.

"Sementara ini, kami masih berupaya memeriksa ibu pembuang bayi kembar berinisial D yang kondisinya masih lemas di Rumah Sakit Bhayangkara dan masih memburu kekasihnya berinisial F yang kabur ke kampungnya," kata 

Pihaknya juga masih menyelidiki lokasi bayi kembar itu dilahirkan dan saat polisi memintai keterangan, D sempat tidak sadarkan diri.

Terkait, proses penangkapan wanita berinisial D dilakukan petugas saat berada di rumah kerabatanya di Jimbaran. Perbuatan pelaku dijerat pasal berlapis yaitu Pasal 341 KUHP, pasal 342 KUHP, pasal 343 KUHP tentang menghilangkan nyawa anak yang baru dilahirkan.

Selain itu, pelaku dapat dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak. "Apabila hasil penyidikan ada unsur perencanaan maka ancaman hukuman pidana penjara seumur hidup," ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, bayi kembar itu dibalut kain merah yang dimasukkan ke dalam tas kain berwarna orange. Sebelum masuk ke dalam tas kain, bayi kembar itu disimpan dalam kantong keresek hitam.  

Informasi yang dihimpun @polrestadenpasar, saat ditemukan oleh saksi orok bayi tersebut diketahui kembar dengan jenis kelamin perempuan dibalut kain merah, dan dibungkus tas plastik hitam, ditaruh di dalam tas kain warna kuning/kream. Kondisi orok bayi tersebut sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

Menurut keterangan sejumlah saksi, pada Sabtu, 14 Juli 2018 sekira pukul 04.00 WITA, tetangga kos F mendengar suara tangisan bayi yang berasal dari kamar sebelah.  

Keesokan harinya, sekira pukul 12.30 WITA, ia mencium bau busuk, dan memberitahukan kejadian tersebut kepada pengelola kos.

Menurut polisi F sebelumnya menghuni kamar tersebut dengan seorang perempuan yang tidak diketahui identitasnya. 

Saat kejadian, F yang menempuh studi di salah satu Universitas di Denpasar pulang kampung pada hari Sabtu, 14 Juli 2018 dengan alasan mengambil ijazah. 

Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Syahrul Munir
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500