Menagih Janji Suci Menghentikan Pekerja Anak  

Estimasi Baca :

Ilustrasi anak korban penyekapan. Foto: Pixabay - Kriminologi.id
Ilustrasi pekerja anak. Foto: Pixabay

Kriminologi.id - Hampir separuh dari 152 juta anak-anak di dunia masih menjadi pekerja. Yang membuat miris, mereka yang rentang usia 5-17 tahun itu, bekerja di lingkungan yang masuk dalam kategori berbahaya.

Setidaknya, berdasarkan catatan Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO), ada sekitar 73 anak bekerja di sektor pertambangan, ladang, pabrik, dan rumah.

"Anak-anak lebih rentan terhadap risiko daripada orang dewasa. Diperlukan tindakan segera untuk memastikan tidak ada anak di bawah usia 18 tahun yang berada dalam pekerja anak yang berbahaya," kata Ryder dalam keterangannya, Selasa, 12 Juni 2018. 

Pada Hari Dunia Menentang Pekerja Anak 2018 yang jatuh tepat pada hari ini, ia mengatakan, pihaknya menyoroti persoalan keberadaan anak-anak di lingkungan kerja yang berbahaya.

"Anak-anak ini bekerja keras di pertambangan dan ladang, pabrik dan rumah, terkena pestisida dan zat beracun lainnya, membawa beban berat atau bekerja berjam-jam. Banyak yang menderita, konsekuensi fisik dan psikologi seumur hidup. Hidup mereka bisa berisiko," ujanya.

"Ini lebih serius bagi anak-anak daripada yang diperkirakan sebelumnya," katanya menambahkan.

Faktor lainnya yang menjadi perhatian ILO, menurut Ryder, adalah masa pubertas anak yang memang butuh perhatian khusus. Sebab, pada masa itu dorongan dalam diri anak untuk mencoba segala sesuatu yang baru dan mencoba menonjolkan diri rentan bersinggungan dengan hukum.

Ilustrasi pekerja anak. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id
Ilustrasi pekerja anak. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Kondisi tersebut, ia mengaku, memiliki relasi yang kuat bahkan timbal balik antara pendidikan dan kesehatan.

"Kurangnya pendidikan meningkatkan risiko terhadap hasil kesehatan yang negatif dari pekerjaan. Sebaliknya, pendidikan berkualitas memiliki efek positif dan protektif terhadap kesehatan," kata Ryder.

Meski jumlah keseluruhan anak-anak yang masuk dalam kategori pekerjaan berbahaya telah menurun selama beberapa tahun terakhir, namun antara 2012-2016 hampir tidak ada pengurangan jumlah anak-anak berusia 5 hingga 11 tahun yang masuk dalam kategori pekerja anak.

Ryder mengingatkan, pihaknya memiliki agenda pembangunan berkelanjutan pada 2030. Urgensi pada agenda itu yakni menghapus bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. Bentuk tersebut meliputi pekerjaan berbahaya. Untuk itu dibutuhkan promosi adanya lingkungan kerja yang aman bagi semua pekerja. 

"Target kami untuk mengakhiri semua bentuk pekerjaan anak pada tahun 2025. Kita harus menjaga janji suci yang telah kita buat kepada anak-anak di dunia, kita harus, sekali dan untuk selamanya, "mematikan keran" dan menghentikan anak-anak menjadi pekerja di bidang pertanian, saat berusia enam, tujuh atau delapan tahun," ujarnya.

Ia menilai, seharusnya tidak ada anak-anak di bawah usia 18 tahun yang harus melakukan pekerjaan seperti itu. Sebab, larangan terkait hal tersebut sudah ditetapkan dalam Konvensi ILO tentang pekerja anak yaitu Konvensi Usia Minimum di tahun 1973 dan Konvensi Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak di tahun 1999. 

Bahkan, menurut dia, sudah ada 171 dan 181 negara anggota ILO yang meratifikasi konvensi ini. "Ini mencerminkan komitmen untuk mengakhiri pekerja anak dalam semua bentuknya. Ini saatnya untuk meningkatkan aksi," kata Ryder menegaskan. DM

Baca Selengkapnya

Home Renata Anak Menagih Janji Suci Menghentikan Pekerja Anak  

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu