Modus Baru Teror Bom, Arist: Anak Mudah Dirasuki Pemikiran Radikal

Estimasi Baca :

Ilustrasi Teroris. ilustrasi: Freepik - Kriminologi.id
Ilustrasi Teroris. ilustrasi: Freepik

Kriminologi.id - Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia menilai aksi bom bunuh diri yang melibatkan satu keluarga di Surabaya, Jawa Timur beberapa hari lalu merupakan modus baru dalam perekrutan pelaku bom bunuh diri atau biasa disebut 'pengantin'.

Modus tersebut menyasar keluarga dengan melibatkan anak-anak yang terbilang belia. Hal tersebut dilakukan karena anak mudah dirasuki oleh pemikiran radikal, sehingga aksi bom bunuh diri bisa dilancarkan dengan mudah.

“Sikap Komnas anak mewaspadai modus modus baru merekrut dan mengorbankan anak sendiri untuk jadi pengantin,” kata Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait di Jakarta Timur, Selasa, 15 Mei 2018.

Dengan diberlakukanya modus ini, lanjut Arist, anak-anak yang seharusnya menjadi harapan dan penerus bangsa menjadi korban pelampiasan aksi-aksi teroris yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, pihaknya sangat mengecam adanya aksi teroris yang melibatkan anak-anak di bawah umur seperti yang terjadi di Surabaya. 

“Melibatkan anak-anak di bawah umur 18 tahun sebagai pelaku aksi teror bom bunuh diri adalah perbuatan keji dan tidak berprikemanusiaan,” ujarnya.

Untuk menanggulangi agar anak-anak tidak terjerumus dalam paham deradikalisasi, Komnas Perlindungan Anak menggalang program deradikalisasi di seluruh Indonesia. Program ini, kata Arist, merupakan salah satu kegiatan yang kerap dijalani dengan bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Teroris atau BNPT. Program ini sudah berjalan 2 tahun lalu dengan menyasar anak anak terduga teroris.

"Kita menangani anak-anak terpidana Teroris termasuk orang yang sudah terpidana. Program ini sudah berjalan di seluruh Indonesia dan akan kita fokuskan di Surabaya," tuturnya.

Sebelumnya, bom yang meledak di 3 lokasi di Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu, 13 Mei 2018 tidak hanya menyisakan luka mendalam. Namun juga pertanyaan masyarakat lantaran baru kali ini aksi teror bom bunuh diri di Indonesia pelakunya adalah satu keluarga. Mereka terdiri atas ayah, ibu, serta keempat anaknya yang masih di bawah umur.

"Para pelaku diduga merupakan satu keluarga," kata Kapolri Jendral Tito Karnavian dalam konferensi pers di RS Bhayangkara, Surabaya.

Identitas sang ayah bernama Dita Febrianto selaku Ketua Jemaah Ansharut Daulah (JAD). Sementara sang ibu, bernama Puji Kuswari. Dita dan Puji dikarunia empat anak. Rinciannya, dua laki-laki dan dua perempuan. Namun, pasangan suami istri itu tega menjadikan empat anaknya yang masih di bawah umur untuk menjadi pelaku bom bunuh diri.

Para pelaku bom bunuh diri di pintu gerbang Markas Polrestabes Surabaya pada Senin pagi 14 Mei 2018 diketahui juga merupakan satu keluarga yang terdiri dari lima orang. Kartu Keluarga jadi bukti polisi menemukan identitas para pelaku. 

Satu keluarga itu terdiri atas ayah bernama Tri Murtiono, seorang ibu bernama Tri Ernawati, dan dua anak laki-laki bernama Mohammad Dari Satri dan Mohammad Dafa Amin. Sementara satu anaknya yang perempuan yang masih kecil terlempar saat bom meledak, berhasil diselamatkan oleh anggota Polrestabes Surabaya. TD

Baca Selengkapnya

Home Renata Anak Modus Baru Teror Bom, Arist: Anak Mudah Dirasuki Pemikiran Radikal

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu