Ilustrasi Perdagangan Orang. Ilustrasi: Kriminologi.id

Modus Kawin Kontrak di Trafficking, KPAI Minta Pemuka Agama Satu Visi

Estimasi Baca:
Selasa, 31 Jul 2018 15:25:32 WIB

Kriminologi.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI menyatakan praktik kawin kontrak bukan hal baru dan banyak ditemukan di kawasan Jawa Barat. KPAI meminta, para pemuka agama satu visi dengan KPAI terkait kejahatan perdagangan anak.

KPAI kepada para pemuka agama agar satu visi dalam mendukung pemberantasan kejahatan perdagangan orang terkait banyaknya legitimasi kawin kontrak yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan itu.

“Kita (KPAI) meminta, kita misalkan progresif di wilayah ini (kawin kontrak) tanpa ada pemuka agama yang juga yang satu visi ini pertanyaan besar. Kami ingin mari kita pemuka agama menyiarkan agama. Apalagi semangatnya sama,” kata Ai Maryati Solihah, Komisioner KPAI bidang Trafficking dan Eksploitasi Anak, melalui sambungan telepon, Selasa, 31 Juli 2018.

Menurut Ai, pihaknya menemukan maraknya praktik kawin kontrak tersebut di kawasan Bogor, Jawa Barat. Praktik tersebut menurutnya bukan hal baru yang terjadi.

“Sebetulnya ini bukan hal baru, kita banyak menemukan kawin kontrak di daerah yang lebih dekat di puncak Bogor, di Cipayung, tapi ini salah. Bagaimana pun ada pro-kontra, ada argumentasi yang mendukung atau juga ada yang menentang, ini sudah tidak connect,” kata Ai.

Menurut Ai dirinya tidak mempersoalkan pro dan kontra terkait hal itu, KPAI mengajak para pemuka agama untuk melihat persoalan itu dengan jernih. 

Sebelumnya Ai mengatakan, masyarakat harus mewaspadai terma-terma agama yang dijadikan alat legitimasi dalam memuluskan aksi pelaku kejahatan perdagangan anak. 

KPAI menghimbau kewaspadaan orang tua dan keluarga harus dibarengi komitmen tokoh agama agar turut menentang perdagangan orang. 

“Karena dalam agama manapun dinyatakan anak bukanlah komoditi yang dapat dipertukarkan apalagi diperjual-belikan. Anak merupakan amanah yang harus dilindungi, dan dipenuhi hak dalam kehidupannya,” kata Ai.

Polda Jawa Barat mengungkap perdagangan orang atau human trafficking. Belasan perempuan yang menjadi korban diketahui berasal dari Kabupaten Purwakarta, Kota Sukabumi, Tangerang, dan Kabupaten Bandung.

Menurut pihak kepolisian, pelaku menggunakan modus kawin kontrak kepada para korbannya. Modus tersebut diyakini polisi sebagai modus baru dalam perdagangan manusia yang dibawa ke Cina.

Kasus itu terungkap karena salah seorang korban berhasil melarikan diri dari lokasi penampungan di sebuah apartemen di Jakarta.

Tiga tersangka sudah ditahan di Polda Jabar terkait kasus tersebut. Keempat pelaku di antaranya Thjiu Djiu Djun alias Vivi Binti Liu Chiung Syin berperan sebagai perekrut, Yusuf Halim alias Aan sebagai perekrut dan warga Tiongkok, Guo Changshan sebagai perantara di Indonesia ke Cina. AS

Reporter: Achmad Sakirin
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500