Siswi TK peserta pawai kemerdekaan di Probolinggo (18/08/2018). Foto: Ist/Kriminologi.id

Pawai Murid TK Bawa Replika Senjata di Probolinggo, Panitia Lalai

Estimasi Baca:
Minggu, 19 Ags 2018 15:05:06 WIB

Kriminologi.id - Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Probolinggo, Jawa Timur sekaligus panitia pawai budaya HUT ke-73 Kemerdekaan RI di Kota Probolinggo dianggap lalai meloloskan penggunaan atribut cadar dan replika senjata oleh salah satu murid TK peserta pawai. Hal itu terungkap setelah Polres Probolinggo Kota melakukan klarifikasi dengan panitia pawai budaya.

Namun demikian, penggunaan atribut tersebut tidak mengarah kepada simbol-simbol radikalisme atau terorisme.

"Dalam pelaksanaan pawai budaya dari pihak panitia (Disdikpora Kota Probolinggo) lalai dalam melaksanakan kontrol dan pengecekan terkait kostum dan atribut Peserta Pawai Budaya khususnya kepada TK Kartika V Probolinggo," demikian informasi polisi yang diterima Kriminologi.id melalui siaran pers, Jakarta, Minggu, 19 Agustus 2018.

Menurut polisi, penggunaan atribut cadar hitam disertai dengan replika senjata merupakan murni ide dari TK Kartika V Probolinggo itu sendiri. Tujuannya untuk merefleksikan Perjuangan Nabi Muhammad dan tidak ada maksud mengarah kepada simbol-simbol radikalisme/teroris, namun hanya menanamkan keimanan kepada anak didiknya.

Selain itu, kostum tersebut dipilih karena alasan memanfaatkan properti yang ada di TK Kartika V Probolinggo, sehingga tidak perlu menyewa kostum. Kemudian, sebelum pawai digelar, tema yang dibawakan TK Kartika diserahkan kepada panitia.

Dalam pelaksanaannya, panitia tidak melakukan pengecekan terkait kostum yang dipakai sehingga penggunaan cadar dan replika senjata itu pun lolos.

Informasi polisi itu juga menyatakan, setelah penggunaan atribut itu mendapat reaksi di media sosial, sekitar pukul 14.30 WIB, Ketua Panitia, Supaiani dan Kepala Sekolah TK Kartika V, Hartatik yang didampingi Kapolres Probolinggo Kota, Dandim 0820 Probolinggo, dan Kadiknas Kota Probolinggo melakukan konferensi pers.

Dalam konferensi pers tersebut, Hartatik menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia. Dia menyatakan jika tema yang diusung tidak memiliki maksud apa pun selain menanamkan keimanan kepada siswi-siswinya.

Reporter: Marselinus Gual
Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500