Ilustrasi Perdagangan Orang. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Pengakuan Ayah Korban Perdagangan Manusia, Anaknya Pergi Tak Bilang

Estimasi Baca:
Senin, 30 Apr 2018 19:20:50 WIB

Kriminologi.id - Seorang anak perempuan berusia 16 tahun berinisial W diduga menjadi korban perdagangan manusia atau human trafficking. Hal tersebut diketahui setelah orang tua W mendapat kabar bahwa anaknya dipekerjakan sebagai pemandu lagu di sebuah tempat karoke di daerah Papua.

Kedua orang tua W, Hendrik (55) dan Sukaesih, menceritakan mengenai anak ketiganya itu. Peristiwa terjadi bermula sekitar 1,5 bulan lalu. Saat itu Weni yang baru lulus sekolah menengah pertama (SMP) tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan SMK karena persoalan biaya. 

“Karena alasan itu, Weni ingin langsung mencari pekerjaan. Saya juga gak bisa maksa, karena kami juga tau lah keadaan keuangan kami gak bisa sekolahin dia,” kata Hendrik saat ditemui di rumahnya di Teluk Buyung, Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin siang, 30 April 2018.

Keinginan W ingin segera bekerja semakin menggebu. Sampai-sampai keinginannnya itu dia ceritakan kepada temannya bernama Novi. Mendengar cerita temannya itu, Novi menyarankan agar W menghubungi Ika Dewi Rahmawati yang ternyata diketahui sebagai germo.

W dan Novi kemudian bertandang ke rumah Dewi di daerah Bekasi Timur. Kepada Dewi, korban menceritakan keinginan untuk bekerja. Dewi yang saat itu melihat adanya kesempatan berdalih bakal membantu mencarikan pekerjaan. Kepada korban, Dewi menawarkan W pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di Papua.

Untuk menjadi pembantu rumah tangga, korban W harus memberikan izazah terakhirnya sebagi bentuk jaminan kepada Dewi. Setelah mengetahui persyaratannya demikian, korban dan rekannya Novi bergegas pamit pulang. Pada hari itu juga, W langsung mencari izazah terakhirnya yang disimpan oleh ibunya di dalam laci kamar.

“Sebelum itu dia sempat tanya, ada izazah, saya bilang buat apa, kata Weni buat ngelamar kerja, cuma gak jelasin kerja di mana," katanya.

Setelah diberikan ibunya, W kemudian menyerahkan izazah miliknya itu ke Dewi. Berharap dia segera diberangkatkan ke Papua. Setelah beberapa lama berselang, Weni kemudian berangkat ke Papua menggunakan uang dari Dewi. 

Keberangkatan W ke Papua ternyata tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Selama satu minggu berlalu bahkan dua minggu Weni menghilang, Hendrik tidak tahu keberadaan anaknya.

"Nah pas hampir dua minggu itu dia nelpon, anak saya ada di Pekanbaru. Seminggu kemudian menelpon lagi ada di Papua. Bilangnya kerja jadi pembantu rumah," kata Hendrik. TD

KOMENTAR
500/500