Juliana (baju biru paling kiri) di PN Tangerang. (11/7/2018). Foto: Walda Marison/Kriminologi.id

Pengakuan Juliana Penggugat RS Omni, Habis Miliaran Demi Anak

Estimasi Baca:
Rabu, 11 Jul 2018 15:56:27 WIB

Kriminologi.id - Juliana Dharmadi menggugat perdata Rumah Sakit Omni Alam Sutera dan dokter spesialis anak Ferdy Limawal ke Pengadilan Negeri Tangerang karena dituding melakukan malapraktik yang menyebabkan penglihatan kedua anak kembarnya Jared dan Jayden (10) terganggu. Bahkan salah satunya kini mengalami kebutaan total.

Juliana sebenarnya pernah memperkarakan hal ini pada 2009 silam. Ia melaporkan dugaan malapraktik yang merugikan dua anak kembarnya ke Polda Metro Jaya. Namun, pada 2010, penyidik mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan (SP3) atas kasus tersebut.

Setelah 8 tahun berlalu, Juliana kembali memperkarakan pihak yang sama di Pengadilan Negeri Tangerang. Apa alasan Juliana kembali mengangkat kasus ini?

Kepada media yang menemuinya di sebelum persidangan digelar di PN Tangerang, Juliana bercerita panjang lebar tentang keputusannya untuk mengangkat kembali kasus malapraktik yang menimpa kedua anaknya itu.

"Sudah habis miliaran mas. Saya bawa ke Jogja untuk pengobatan. Belum biasa ongkos dan nginepnya. Sudah habis biaya," kata Juliana di PN Tangerang, Rabu, 11 Juli 2018.

Juliana berkisah, selama hampir 10 tahun sejak kedua anaknya dilahirkan di RS Omni Alam Sutera, Juliana harus berjibaku untuk mengobati dua buah hatinya yang menderita kebutaan permanen dan mata silinder. 

"Jared mengalami kebutaan total dan Jayden mengalami mata silinder," katanya.

Juliana bertutur, kebutaan yang dialami anaknya diduga akibat penanganan dari dokter di Rumah sakit Omni saat Juliana melahirkan kedua anaknya. Ia merasa tak terima dengan pelayanan yang diberikan rumah sakit swasta tersebut. Padahal ia telah mengeluarkan uang yang tak sedikit saat proses persalinan pada 2008 itu.

"Hampir 250-an (juta) itu waktu tahun 2008. Dan itu yang saya bayar harga ICU. Dari lahir sampai pulang itu harga Micu, Micu tahu kan? ICU anak. Saya menunjukkan kepada Omni bahwa saya sebagai orang tua itu mampu membayar," katanya.

Menurut Juliana, selama ini tidak pernah ada etiket baik dari pihak RS Omni untuk melakukan mediasi guna menyelesaikan masalah dugaan malapraktik tersebut melalui jalur kekeluargaan.

"Tidak (mediasi). Mereka tetap pada arogansinya. Mereka arogansi, mereka berpendapat sudah bekerja sesuai dengan SOP," lanjutnya.

Dengan gugatan kali ini, ia  berharap bisa memenuhi haknya sebagai pihak yang dirugikan oleh Rumah Sakit Omni. 

Hingga saat ini, diakui Juliana,  kedua anaknya sudah tidak mengikuti pengobatan rutin seperti sebelumnya 

"Jared harus di asrama karena dia sekloah khusus tuna netra, kalau Jayden di sekolah formal," pungkasnya.

Sebelumnya, pengacara Juliana, Maddenleo T. Siagian mengatakan bahwa gugatan kepada para pihak tergugat dilayangkan karena penggugat selama ini telah mengalami kerugian baik imateril maupun materil terkait kebutaan dan gangguan penglihatan yang dialami oleh anak kembarnya.

"Keluarga merasa sangat terpukul dan kecewa karena anak-anak mereka telah mengalami kebutaan seumur hidupnya disebabkan oleh kelalaian dokter dan rumah sakit dalam menangani mereka. Penggugat juga telah mengalami kerugian baik kerugian materiil dan immateriil. Sampai dengan gugatan ini didaftarkan, penggugat telah mengalami kerugian materiil sebesar Rp 671.540.043," kata kuasa hukum keluarga korban Maddenleo T Siagian dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kriminologi.id, Selasa, 10 Juli 2018.

Maddenleo mengatakan, sudah sepantasnya keluarga korban menggugat Ferdy dan RS Omni Alam Sutera untuk mengganti kerugian tersebut. "Sekurang-kurangnya sekitar Rp 2 miliar," lanjut Maddenleo. RZ

Reporter: Walda Marison
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500