Ilustrasi Anak Berhadapan dengan Hukum. Foto: Pixabay.com

Perdagangan Anak Marak di Facebook karena Pengguna Banyak di Pelosok

Estimasi Baca:
Kamis, 2 Ags 2018 09:05:09 WIB

Kriminologi.id - Maraknya perdagangan orang yang terjadi di Indonesia melalui Facebook dinilai karena media sosial tersebut paling banyak digunakan di Indonesia hingga ke pelosok. Pemerintah didesak untuk terus mengedukasi masyarakat terkait pengunaan media sosial.

End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking Of Children For Sexual Purposes atau ECPAT menyatakan, pemerintah harus terus menggalakkan literasi digital agar kasus tersebut dapat diatasi.

Andy Ardian, program manager ECPAT Indonesia mengatakan kasus human trafficking lebih banyak terjadi di Facebook. Pasalnya, Facebook merupakan media sosial yang paling banyak penggunanya di Indonesian.

“Penggunanya paling banyak sampai di pelosok-pelosok. Kalau Instagram dan lainnya umumnya masih di kota,” kata Andy. Rabu, 1 Agustus 2018 melalui sambungan telepon.

Organiasasi yang bergerak dalam penghentian eksploitasi seksual komersial anak atau ESKA itu juga menyebut kasus perdagangan anak melalui media sosial Facebook terjadi karena ketidakpahaman anak-anak menggunakan media sosial.

Menurut Andy, tren kasus perdagangan anak di media sosial yang terungkap selalu meningkat. Terungkapnya kasus itu, kata dia, bisa dilihat dari dua hal. Pertama karena karena masyarakat mulai sadar dan mulai melapor atau memang saat ini sudah mengkhawatirkan kasusnya. 

“Karena kalau kita bilang kejahatan seperti ini (perdagangan anak), kan underground yang kita nggak bisa ungkap datanya seperti melakukan sensus,” kata Andy.

Andy menjelaskan, media sosial merupakan ruang terbuka untuk berkomunikasi dan tergantung kepada penguna internet. Menurutnya pemerintah harus mengedukasi masyarakat tentang keamanan di dunia internet, termasuk mensosialisasikan kriteria usia di medias sosial.

“Kadang-kadang anak SD sudah punya sosial media. Sosmed itu punya aturan jelas, cuma masyarakat itu nggak pernah membacanya. Perlu edukasi untuk masyarakat sebenarnya pemerintah sudah mendorong untuk gerakan literasi digital,” ujar Andy.

Sementara solusi kedua menurut Andy, pelaku usaha yang bergerak di dunia digital diminta untuk peduli dan memiliki tindak lanjut terhadap produk yang dikeluarkan.

Diberitakan sebelumnya, Polda Jawa Barat mengungkap penjualan manusia ke Cina yang sudah berlangsung pada 2017 hingga Juli 2018 dengan modus kawin kontrak.

Sindikat perdagangan manusia berjumlah tiga orang masing-masing berinisial TDD, GC dan YH memanfaatkan media sosial Facebook untuk berkomunikasi dalam menyelundupkan sejumlah wanita asal Indonesia ke Cina. 

Para korban yang merupakan wanita berusia 16-21 tahun, diiming-iming mendapat penghasilan besar jika mau dikawini secara kontrak. Pengungkapan kasus itu berkat salah satu korban yang berhasil kabur dan kemudian melaporkan salah satu Polres di Jabar. AS

Reporter: Achmad Sakirin
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500