Ilustrasi pernikahan dini. Ilustrasi: Pixabay.com

Pernikahan Dini di Sulteng Picu KDRT dan Drop Out Sekolah

Estimasi Baca:
Senin, 23 Jul 2018 19:05:45 WIB

Kriminologi.id - Aktivis perempuan di Sulawesi Tengah menilai pernikahan anak di bawah umur atau pernikahan dini menjadi salah satu fakor pemicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Selain itu, jumlah anak sekolah yang tidak menyelesaikan pendidikan atau drop out dan pekerja anak sangat tinggi.

"Pernikahan anak di bawah umur atau pernikahan dini juga salah satu pemberi kontribusi tertinggi KDRT," ucap aktivis perempuan Mutmainah Korona dari Lembaga Sikola Mombine, Senin, 23 Juli 2018.

Mutmainah mengatakan, di Desa Kabalutan, Kabupaten Tojo Una-una di Kepulauan Togean sebagai salah satu penyuplai kasus pernikahan anak tertinggi untuk kabupaten tersebut.

Tingginya angka pernikahan dini di sana, menurut Mutmainah, perlu mendapat perhatian khusus dalam menjangkau program penguatan keluarga, perempuan, dan masyarakat.

Data tertinggi kedua di Sulawesi Tengah terkait pernikahan dini terjadi di Kabupaten Parigi Moutong. Di wilayah ini, jumlah anak sekolah yang tidak menyelesaikan pendidikannya atau drop out dan pekerja anak sangat tinggi. Kabupaten ini bahkan ditandai sebagai wilayah merah pada kasus tersebut.

"Apalagi di wilayah Timur Kabupaten Parigi Moutong, (Moutong) dengan tingginya angka keluarga miskin dan kekerasan anak," ujar Mutmainah.

Dalam kebijakan umum sejak tahun 2017, lembaganya telah telah mengusulkan rancangan peraturan daerah tentang pencegahan pernikahan dini di Sulteng melalui inisiatif DPRD.

Selain itu, pihaknya juga menguatkan rancangan peraturan daerah tentang keluarga dengan memasukkan pasal pencegahan pernikahan anak menjadi bagian dari substansi penting dari raperda tersebut.

Berdasarkan catatan pihaknya, Sulawesi Tengah menempati urutan ketiga secara nasional untuk kasus pernikahan dini. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2015 menyebutkan, rata-rata anak berusia 15-19 tahun telah berstatus kawin dan pernah kawin.

Presentase terbesarnya terdapat di Kabupaten Banggai Laut sebesar 15,83 persen, diikuti Kabupaten Banggai Kepulauan 15,73 persen, Kabupaten Sigi 13,77 persen. Kemudian, Kabupaten Tojo Una-una 12,84 persen, dan Kota Palu 6,90 persen. Menurut data BPS di tahun 2016, penyumbang tertinggi dalam pernikahan dini adalah Kabupaten Tojo Una-una sebesar 23 persen dan Parigi Montong sebesar 22 persen. AS

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500