Anak disiksa ayah kandung di Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara. Foto: Yuni Rusmini/Facebook

Polisi Kepung Rumah Ayah Penganiaya Anak Kandung di Sultra

Estimasi Baca:
Selasa, 4 Sep 2018 11:05:50 WIB

Kriminologi.id - Polsek Kulisusu, Kabupaten Buton Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara meringkus Rahman alias La Saleh bin Daud (31), pria yang diduga menganiaya anak kandungnya. Polisi mengepung rumah Rahman sehingga tak bisa melarikan diri.

Aksi Rahman sebelumnya terekam dalam video yang diduga direkamnya sendiri dan viral di media sosial.

Rahman diringkus pada Selasa, 4 September 2018 sekitar pukul 05.00 Wita di rumah warga Desa Lelamo, Kecamatan Kulisusu Utara tanpa perlawanan dan upaya melarikan diri karena sudah dikepung petugas Polsek Kulisusu.

Polisi kemudian langsung menetapkan dia sebagai tersangka.

Kapolsek Kulisusu Kompol La Ahali melalui saluran telepon dari Buranga mengatakan, penangkapan Rahman berdasarkan bukti permulaan yang cukup atas laporan Tri Wulan Damayanti binti Maludin (36) atas tuduhan menganiaya Ozil Rifathar alias La Saleh.

"Pelapor adalah istri pelaku sedangkan korban yang berusia 5 tahun adalah anak kandung pelapor dan terlapor. Pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatan secara hukum," kata Ahali di Buranga, Selasa, 4 September 2018.

Menurut Ahali, aksi pelaku dalam video tersebut terjadi saat ia berkomunikasi video call dengan Tri Wulan, ibu kandung korban.

Rahman beberapakali mendorong kepala korban dan mengancam menusuk leher korban dengan benda tajam sehingga menangis sambil memanggil ibunya. Atas perlakuan tersebut, Tri Wulan melaporkan suaminya itu ke Polsek Kulisusu.

Atas perbuatannnya, Rahman dijerat pasal 80 ayat (1) dan ayat (4) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak atau pasal 44 ayat 91) UU Nomor 23 TAHUN 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Penyidik telah meminta keterangan sejumlah saksi untuk mengungkap motif peristiwa 31 Agutus 2018 dan menyita barang bukti rekaman video.

Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Syahrul Munir
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500