Bom di Polrestabes Surabaya. Foto: Ist/Kriminologi.id

Polisi Sulit Deteksi Anak yang akan Dilibatkan dalam Bom Bunuh Diri

Estimasi Baca:
Jumat, 18 Mei 2018 14:35:39 WIB

Kriminologi.id - Pihak kepolisian mengaku kesulitan mendeteksi anak yang akan dilibatkan dalam bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarko beberapa hari lalu. Pelaku bom bunuh diri yang merupakan satu keluarga dan melibatlan anak di bawah umur, menunjukan adanya modus baru dalam perekrutan aktor pelaku bom bunuh diri di Indonesia.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan, pihaknya akan mengantisipasi adanya modus baru perekrutan anak di bawah umur menjadi pelaku bom bunuh diri.

"Ini kan kita agak susah mendeteksi karena mereka (anak-anak) adalah korban. Jadi mendeteksinya harus lebih jeli lagi," ujar Setyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 18 Mei 2018.

Pihaknya, lanjut Setyo, hanya bisa melakulan pemeriksaan kepada anak yang dianggap bertindak mencurigakan di tempat umum. Pemeriksaan itu tidak tertuju kepada anak-anak saja melainkan kepada setiap orang yang mencurigakan.

Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia sebelumnya juga mengecam tindakan para teroris yang tega menjadikan anak kecil menjadi pelaku bom bunuh diri. Perekrutan anak kecil menjadi pelaku bom bunuh diri merupakan modus baru yang harus di waspadai.

Anak-anak yang seharusnya menjadi harapan dan penerus bangsa akan menjadi korban pelampiasan aksi aksi teroris yang tidak bertanggung jawab.

Sebelumnya, bom yang meledak di tiga gereja di Surabaya, Minggu, 13 Mei 2018, tidak hanya menyisakan luka, tapi juga berbagai macam tanya. Sebab, baru kali ini di Indonesia bom bunuh diri pelakunya adalah satu keluarga.

Pelaku bom bunuh diri tiga lokasi di Surabaya, adalah satu keluarga. Mereka terdiri dari ayah dan ibu serta keempat anaknya yang masih di bawah umur.

Identitas sang ayah bernama Dita Febrianto merupakan ketua Jemaah Ansharut Daulah (JAD), sementara istrinya bernama Puji Kuswari. Dita dan Puji dikarunia empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Namun, keduanya tega menjadikan empat anaknya yang masih di bawah umur menjadi pelaku bom bunuh diri.

Para pelaku bom bunuh diri di pintu gerbang Markas Polrestabes Surabaya pada Senin pagi 14 Mei 2018 diketahui juga merupakan satu keluarga yang terdiri dari lima orang. Kartu Keluarga jadi bukti polisi menemukan identitas para pelaku. 

Satu keluarga itu terdiri dari ayah bernama Tri Murtiono, seorang ibu bernama Tri Ernawati, dan dua anak laki-laki bernama Moh Dari Satri dan Moh Dafa Amin. Sementara satu anaknya perempuan yang masih kecil terlempar saat bom meledak, berhasil diselamatkan oleh anggota Polrestabes Surabaya. AS

Reporter: Walda Marison
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500