Suasana rumah orang tua bayi yang tewas ditenggelamkan oleh pembantu. Foto: Ist/Kriminologi.id

Selain Rewel, PRT Bunuh Balita Anak Majikannya Karena Dilarang Pacaran

Estimasi Baca:
Rabu, 1 Ags 2018 20:30:08 WIB

Kriminologi.id - Pembunuhan yang dilakukan Pekerja Rumah Tangga atau PRT bernama Sani (29) ternyata bukan hanya semata-mata emosi melihat anak majikannya yang rewel dan tak bisa tidur. 

Penganiayaan hingga berujung kematian ini dilakukan Sani karena dendam terhadap majikan yang melarang dirinya berpacaran. Larangan itu membuat Sani sakit hati.

Ratifah Rafsani Ahmad (3), balita majikannya itu menjadi sasaran amarah PRT terhadap ibu balita tersebut. 

"Memang ada tambahan kekesalan karena oleh orang tua anak sempat dilarang pacaran," ujar Kapolsek Cikande, Kompol Kosasih didampingi Kanit Reskrim Iptu Dadang, Rabu, 1 Agustus 2018. 

Kosasih tidak menyebutkan secara rinci larangan Sutihati, majikannya terhadap Sani hingga PRT ini menaruh dendam. Kosasih hanya menyebutkan kalau Sani baru saja bekerja di rumah majikannya itu selama dua bulan. 

"Dia baru bekerja dua bulan di rumah itu," ujarnya. 

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/wanita-berbaju-merah-pelaku-penenggelaman-1533111143.jpg

Seperti diketahui balita Ratifah Rafsani Ahmad (3) ditemukan tewas di kamar mandi rumahnya di Desa Cikande, Serang, Banten, Selasa, 31 Juli 2018. 

Adalah Sutihati, ibu balita yang pertama kali menemukan anaknya tewas dengan kepala tenggelam dalam ember pada posisi terbalik alias kaki di atas. Saat itu, Sutihati hendak mencuci kaki usai pulang kerja di pabrik sepatu.

Sutihati teriak histeris melihat anaknya tewas mengenaskan hingga tetangga sekitar mendatangi rumahnya. Belakangan diketahui, pelakunya adalah Sani, PRT yang dititipkan mengasuh anaknya.

PRT yang juga janda beranak satu itu semula mengaku perbuatan sadisnya itu dilakukan karena anak yang diasuhnya rewel dan tak mau tidur.  

Kapolres Serang AKBP Indra Gunawan mengatakan Sani memukul anak majikannya di bagian rahang sebanyak satu kali. Kemudian, PRT itu kembali menganiaya Ratifah di bagian lengan kanan korban dan berujung dimasukkan ke dalam ember berisi air dalam posisi kaki berada di atas alias terbalik.

"Korban itu dimasukkan ke dalam ember itu dengan posisi terbalik, hingga meregang nyawa," kata Indra.

Polisi mengamankan barang bukti, yakni satu unit ember, satu buah pampers, kaos dan baju dalam korban. Selain itu, satu buah pasta gigi, dan uang senilai Rp 38 ribu pun disita.

Polisi kemudian mengautopsi jasad korban. Kini, polisi akan melakukan tes kejiwaan terhadap pelaku. 

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku diancam dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara 20 tahun karena dianggap telah menyalahi Pasal 80 Ayat 3 Undang-undang Republik Indoensia nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo pasal 339 Jo 340 KUHP pidana.

Reporter: Rohmayanti Adhe
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500