Semboyan Ingin Mati, Kendala Pemulihan Bocah Saksi Kunci Bom Surabaya

Estimasi Baca :

Komnas Perlindungan Anak dalam keterangannya (15/05/2018). Foto: Walda Marison/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Komnas Perlindungan Anak dalam keterangannya (15/05/2018). Foto: Walda Marison/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Adanya proses pencucian otak paham radikal sejak kecil kepada anak perempuan saksi kunci ledakan bom di Polrestabes Surabaya oleh kedua orang tuanya, menjadi tantangan tersendiri bagi Komisi Nasional Perlindungan Anak. Hal ini dikatakan Komisioner Bidang Sosialisasi dan Pemenuhan Hak Anak Imaculata Umiyati, di kantornya di Jalan TB Simatupang, Jakarta Timur, pada Selasa, 15 Mei 2018.

Imaculata menilai, paham radikal yang telah ditanamkan kepada anak perempuan tersebut sulit untuk dilepaskan.

"Mereka hanya punya semboyan ingin mati. Mungkin, anak ini sudah anti dengan pelajaran PPKN. Nah, ini yang sangat berat," ujar Imaculata.

Selain paparan paham radikalisme sejak kecil, Imaculata menjelaskan, pihaknya juga harus mempertimbangkan jalur pendidikan yang akan ditempuh oleh sang anak, yakni antara menyekolahkannya di sekolah umum atau ia mendapatkan pendidikan di safe house, atau home schooling.

Dengan berbagai tantangan yang ada, Imaculata menegaskan, pihaknya akan tetap melakukan upaya pemulihan kondisi anak agar kembali normal. Termasuk memberikan pendidikan seperti anak pada umumnya. 

"Pasalnya, anak tersebut tidak bisa dikatakan sebagai pelaku, melainkan korban pencucian otak oleh orang tak bertanggung jawab. Saat ini, pendidikan anak akan terus berjalan. Kita akan lihat situasinya apakah dia akan mengenyam pendidikan di rumah aman atau di sekolah umum," Imaculata menjelaskan.

Di tempat yang sama, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengecam tindakan bom bunuh diri dengan korban anak di bawah umur. Ia berharap, para penegak hukum dapat menuntaskan dan memberantas para pelaku perekrut anak di bawah umur tersebut.

"Melibatkan anak anak di bawah umur 18 tahun sebagai pelaku aksi teror bom bunuh diri adalah perbuatan keji dan tidak berperikemanusiaan," kata Arist.

Sebelumnya, para pelaku bom bunuh diri di pintu gerbang Markas Polrestabes Surabaya berasal dari satu keluarga. Mereka terdiri dari ayah bernama Tri Murtiono, ibu bernama Tri Ernawati, dan dua anak laki-laki yakni Moh Dari Satri dan Moh Dafa Amin.

Sementara, satu anak perempuannya terlempar saat bom meledak. Ia berhasil diselamatkan oleh anggota Polrestabes Surabaya. YH | AS

Baca Selengkapnya

Home Renata Anak Semboyan Ingin Mati, Kendala Pemulihan Bocah Saksi Kunci Bom Surabaya

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu