Kapolres Depok, AKBP Didik Sugiarto. Foto Erwin Maulana/Kriminologi.id

Siswa Korban Pelecehan Seks Guru di Depok Alami Trauma

Estimasi Baca:
Senin, 11 Jun 2018 16:40:45 WIB

Kriminologi.id - Sedikitnya 13 siswa di salah satu sekolah dasar di kota Depok, Jawa Barat mengalami pelecehan seksual oleh guru berinisial WR (23). Para korban aksi pencabulan itu mayoritas adalah anak laki-laki kelas 6. Dari belasan korban siswa tersebut, hingga saat ini hanya 4 siswa yang telah melapor perbuatan tidak senonoh gurunya ke petugas kepolisian. Di antara korban sudah ada yang mengalami trauma.

Melihat fakta ini, Kepolisian Resor Kota Depok menggandeng Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebagai tim pengawas untuk memberikan penanganan terhadap korban.

"Hari ini kami melakukan rapat koordinasi dengan KPAI untuk membahas penanganan dugaan pencabulan yang dilakukan oleh seorang oknum guru terhadap beberapa siswanya. Satu hal yang penting, kami juga akan mencari solusi bagaimana menangani para korban. Karena diperlukan langkah-langkah khusus untuk mengobati luka trauma akibat perbuatan yang dilakukan oleh tersangka," ujar Kapolres Depok, AKBP Didik Sugiarto di selasar depan gedung Polres Depok, pada Senin 11 Juni 2018.

Didik mengatakan, tim KPAI yakni Ketua KPAI Susanto dan Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Sulistyarti datang ke markas Polres Depok sekitar pukul 10.50 WIB.

Selain KPAI, kata Didik, pihaknya juga bersinergi dengan Kepala Bidang Tumbuh Kembang dan Pengembangan Kota Layak Anak-Dinas Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) Kota Depok sekaligus wakil ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Depok, Yulia Oktavia.

Untuk menangani psikis para korban pelecehan tersebut, kata Didik, pihaknya juga akan melibatkan tim psikolog dari Universitas Indonesia. 

"Tadi juga sudah banyak disampaikan dari pihak KPAI dan P2TP2A bahwa nanti kami juga akan kerja sama dengan pihak piskolog dari Fakultas Piskologi Universitas Indonesia untuk mencari tahu bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk menangani keluhan korban," kata Didik. 

Tak hanya memberikan penanganan psikologis kepada para korban saja. Bila diperlukan, kata Didik, pihaknya juga akan memeriksa kondisi psikis tersangka WR. Ia akan bekerja sama dengan para pihak untuk memberikan pemeriksaan psikis terhadap pelaku. 

"Semua itu kan kepentingan penyidikan, termasuk pemeriksaan psikis terhadap pelaku oleh tim psikiater, apabila memang diperlukan. Apabila perlu, tim juga akan akan menjadwalkan pemeriksaan dan penanganan perkara tersebut. Tim terdiri dari KPAI, P2TP2A, dan tim psikolog Universitas Indonesia," kata Didik.

Kasus pencabulan yang dilakukan oleh guru kepada muridnya ini kini masih dalam proses penyelidikan kepolisian setempat. Hingga saat ini, laporan yang diterima kepolisian terkait adanya korban pencabulan yang dilakukan oleh WR masih berjumlah 4 orang. 

Untuk mengusut kasus ini, kata Didik, pihaknya tidak akan hanya menunggu dari setiap laporan yang masuk untuk mengusut kasus tersebut. Namun, juga akan bergerak menyelidiki setiap keterangan dari para saksi. 

"Sementara ini, laporan yang diterima kepolisian masih 4 korban. Tapi, kami tidak akan hanya menunggu laporan saja, namun akan bergerak menyelidiki setiap keterangan yang kami terima dari saksi-saksi, termasuk dari tersangka. Kami akan aktif untuk mendalami semua fakta-fakta yang bisa ditemukan," kata Didik tegas.

Terkait dengan kasus yang melibatkan anak-anak sebagai korban, pihaknya menghimbau agar masyarakat terutama media massa harus memperhatikan setiap aturan ketika menangani kasus pencabulan anak. Artinya, setiap pihak dihimbau tidak terlalu banyak mengekspose setiap kegiatan atau foto-foto anak ketika pengusutan kasus masih berlangsung. YH

Reporter: Erwin Maulana
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500